Esai

Dari Ibu Tuna Aksara, Anak Meulaboh Menembus Kampus Peringkat 25 Dunia

Avatar
×

Dari Ibu Tuna Aksara, Anak Meulaboh Menembus Kampus Peringkat 25 Dunia

Sebarkan artikel ini
Muhammad Akbar Ichtiar di depan kampus barunya, The University of Sydney, Australia. [Foto: Ist]

Byklik.com | Sydney Ada kisah-kisah yang tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kesunyian sebuah rumah sederhana. Dari doa seorang ibu yang tak pernah mengenal huruf, lahir seorang anak yang kelak membaca dunia.

Hujan baru saja membasahi Tanah Meulaboh pada Rabu siang, 17 Juni 2026. Butiran air masih menempel di dedaunan ketika telepon seluler saya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Saat melihat nama pengirimnya, saya tersenyum. Muhammad Akbar Ichtiar membalas pesan yang saya kirimkan pagi tadi. Ia mengizinkan saya meneleponnya.

Percakapan itu membawa saya pada sebuah perjalanan panjang tentang mimpi, kegagalan, doa, dan kemenangan. Sebuah kisah dari bumi tempat matahari tenggelam paling indah di Aceh Barat menuju Negeri Kanguru.

Anak Tunggal dari Rumah yang Sederhana

Akbar lahir sebagai anak tunggal dari keluarga sederhana. Rumah mereka mungkin tidak dipenuhi kemewahan, tetapi selalu dipenuhi harapan.

Di rumah itu ada seorang ibu yang tidak pernah mengenal bangku sekolah.

“Ibu tidak bisa baca, Pak,” ucap Akbar lirih.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sejarah panjang tentang kemiskinan yang memaksa seorang anak perempuan dahulu mengubur impian pendidikannya.

Ibunya tidak mampu membaca koran. Tidak bisa mengeja surat kabar. Bahkan tidak sanggup menuliskan namanya sendiri di atas secarik kertas.

Namun, ada satu hal yang mampu ia baca dengan sangat jelas: masa depan anaknya.

Sejak Akbar duduk di bangku SD Negeri 19 Meulaboh, kemudian melanjutkan ke MTsN Model Meulaboh 1 hingga SMK Negeri 1 Meulaboh, sang ibu tak pernah berhenti mengingatkan satu hal.

“Bagi Ibu, saya harus menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya. Menjadi seorang yang bisa membanggakan keluarga dan bermanfaat bagi orang lain.”

Kalimat itu menjadi kompas hidup Akbar.

Kampus Menjadi Tempat Menempa Diri

Saat diterima di Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku Umar (UTU), Akbar tidak ingin sekadar datang ke kampus, mengikuti kuliah, lalu pulang.

Ia memilih bertumbuh.

Ia dipercaya menjadi Ketua HIMADISTRA periode 2018–2019. Setahun kemudian ia mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan menjadi ketuanya.

Di organisasi itulah Akbar menemukan pelajaran yang tidak pernah diajarkan ruang kuliah.

Baca Juga  Teddy di Warung Rakyat, Berbaur Tanpa Sekat

Ia belajar memimpin.

Belajar mendengarkan.

Belajar mengambil keputusan.

Belajar menyelesaikan konflik.

Dan yang paling penting, belajar bertahan.

“Pelajaran paling penting dari berorganisasi di kampus adalah resiliensi. Bagaimana kita punya daya tahan saat dihantam berbagai persoalan dan mencari penyelesaian.”

Prestasi yang Tidak Datang Sendiri

Kesibukan organisasi ternyata tidak membuat prestasi akademiknya merosot.

Pada 2017, Akbar berhasil menembus 16 besar Lomba Debat Keterbukaan Informasi Publik tingkat nasional yang diselenggarakan Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.

Setahun kemudian ia membawa Universitas Teuku Umar masuk delapan besar Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan Indonesian Association for Public Administration (IAPA).

Tahun 2019, ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UTU.

Namun, satu pengalaman paling membekas baginya adalah ketika berdiri di panggung debat nasional.

Di sanalah ia menyadari bahwa dunia jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.

Ia melihat mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai penjuru Indonesia.

Ia belajar bahwa untuk menjadi hebat, dirinya harus terus bertumbuh.

Akbar akhirnya lulus tepat waktu hanya dalam empat tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93.

Tujuh Kali Ditolak

Setelah lulus pada 2021, Akbar bekerja di Universitas Teuku Umar sebagai operator Sistem Informasi Akademik Pintoe sekaligus staf administrasi.

Rutinitasnya diisi dengan mengelola data mahasiswa dan administrasi kampus.

Namun, di balik meja kerjanya, ada mimpi yang tidak pernah padam.

Ia ingin kuliah ke luar negeri.

Targetnya hanya dua.

LPDP.

Australia Awards Scholarship (AAS).

Tidak ada pilihan lain.

Lalu datanglah kegagalan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Empat kali.

LPDP menolaknya empat kali.

Australia Awards menolaknya tiga kali.

Total tujuh kali penolakan.

Lima tahun perjuangan.

Lima tahun penuh ketidakpastian.

Banyak orang mungkin sudah menyerah.

Namun Akbar memilih bertahan.

“Sejak awal memutuskan untuk mengejar beasiswa saya percaya jika Allah sudah menetapkan suatu keinginan di hati seorang hamba, maka Allah pasti akan mengantarkannya dan mengabulkan doa-doanya.”

Baginya, tawakal bukan berarti berhenti berusaha.

Tawakal adalah tetap melangkah meski berkali-kali jatuh.

Jalan Itu Akhirnya Datang

Takdir terkadang datang melalui pintu yang tidak pernah kita duga.

Baca Juga  LPG vs LNG: Perbedaan Penting yang Masih Sering Disalahpahami

Kesempatan itu hadir melalui skema co-funding, kolaborasi antara LPDP dan Australia Awards.

Semua penolakan yang pernah ia alami seolah lunas dalam satu kabar bahagia.

Akbar diterima melanjutkan studi Master of Business Administration (Leadership and Enterprise) di The University of Sydney, Australia.

Universitas yang berada di peringkat ke-25 dunia berdasarkan QS World University Rankings.

Anak seorang ibu tuna aksara kini belajar di salah satu kampus terbaik di planet ini.

Bukan karena ia paling beruntung.

Melainkan karena ia memilih tidak berhenti.

Sebuah Pesan untuk Anak Muda

Dari Sydney, Akbar masih mengingat tanah kelahirannya.

Ia juga tidak lupa kepada mahasiswa yang hari ini sedang duduk di ruang-ruang kuliah.

“Bagi yang sedang kuliah, belajarlah dengan baik, seriuslah dalam belajar dan bertanggung jawablah. Jangan banyak main-main karena bisa jadi kuliah ini adalah kesempatan terakhir Anda untuk mengubah nasib keluarga. Maka pastikan setiap detiknya akan menjadi investasi yang bisa membawa kebaikan dan kemudahan hidup Anda dan keluarga di masa depan.”

Kepada para pejuang beasiswa yang sedang berkali-kali ditolak, ia juga menitipkan harapan.

“Buat yang ingin lanjut kuliah, berusahalah. Jalan kalian mungkin akan lebih mulus atau bahkan akan lebih sulit dari saya. Tapi satu hal yang pasti, akan selalu ada jalan keluar bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam berusaha dan berdoa, dan yakinlah setiap usaha pasti akan membuahkan hasilnya.”

Janji Seorang Anak

Kisah Muhammad Akbar Ichtiar sesungguhnya bukan sekadar tentang beasiswa ke Australia.

Bukan pula hanya tentang IPK 3,93 atau kampus peringkat 25 dunia.

Ini adalah kisah tentang seorang anak yang memegang erat janji kepada ibunya.

Seorang ibu yang tidak mampu membaca buku, tetapi berhasil menulis masa depan anaknya melalui doa-doa yang tak pernah putus.

Dan mungkin, di situlah letak pendidikan yang paling tinggi.

Bukan pada gelar yang disandang seseorang.

Melainkan pada kemampuan untuk tetap berdiri setiap kali kehidupan menjatuhkannya, hingga suatu hari ia mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah mimpi, melainkan awal dari sebuah perjuangan.