Byklik.com | Jakarta – Ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko krisis pangan dunia, mulai dari gangguan logistik hingga potensi lonjakan harga.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia menunjukkan penguatan ketahanan pangan nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai 4,7 juta ton dan ditargetkan meningkat hingga 5 juta ton.
Selain itu, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor hotel, restoran, dan katering (HoReCa) mencapai sekitar 12 juta ton, yang turut ditopang potensi produksi dari standing crop hingga akhir tahun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah telah melakukan langkah antisipatif sejak dini untuk menghadapi tekanan global.
“Penguatan cadangan pangan menjadi strategi utama dalam menghadapi ketidakpastian global,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Ia menegaskan, posisi cadangan pangan saat ini mencerminkan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai potensi krisis.
“Dengan cadangan yang terus meningkat, kebutuhan pangan nasional diperkirakan aman hingga 11 bulan ke depan,” katanya.
Kementerian Pertanian menilai dinamika geopolitik global semakin menegaskan pentingnya kemandirian pangan. Penguatan produksi dalam negeri dan cadangan pangan dinilai menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global.
Selain itu, kerja sama antarnegara, termasuk dalam kerangka BRICS, dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas pangan global.
Dengan cadangan yang kuat, ketersediaan di pasar, serta dukungan produksi berkelanjutan, Indonesia dinilai berada dalam posisi relatif aman menghadapi ketidakpastian pangan dunia.***











