Lingkungan & Energi

Begini Cara Pegiat Isu Lingkungan Wujudkan Acara Budaya Bebas Plastik

×

Begini Cara Pegiat Isu Lingkungan Wujudkan Acara Budaya Bebas Plastik

Sebarkan artikel ini
Anak-anak menerima makanan dalam wadah yang sudah mereka bawa dari rumah. Foto: Yelli Sustarina

Byklik | Tapaktuan–Pelaksanaan acara adat dan pelestarian budaya sering kali menyisakan persoalan klasik berupa penumpukan sampah plastik sekali pakai. Guna memutus tren negatif tersebut, sebuah aksi nyata ramah lingkungan diterapkan dalam agenda Apresiasi Pengrajin Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan yang berlangsung di Gampong Air Sialang, Kecamatan Sama Dua, Kabupaten Aceh Selatan yang berlangsung pekan lalu.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Yelli Sustarina selaku penerima Bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Aceh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh ini menyajikan konsep unik, yaitu meniadakan penggunaan wadah plastik sekali pakai secara total selama acara berlangsung. Seluruh hidangan, mulai dari makan siang hingga makanan ringan, disajikan secara prasmanan menggunakan piring dan gelas kaca yang dapat digunakan kembali.

Yelli Sustarina mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di tiga gampong kawasan Air Sialang, yakni Air Sialang Hulu, Air Sialang Tangah, dan Air Sialang Hilir. Menurutnya, belum adanya sistem pengelolaan sampah yang memadai di wilayah tersebut membuat masyarakat terbiasa membuang sampah ke sungai, sehingga mengancam habitat air tawar setempat.

Baca Juga  Tangki LNG Arun F-6004 Siap Beroperasi

“Saya tidak ingin acara pelestarian budaya ini justru menambah beban pencemaran di sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Budaya dan alam adalah dua warisan leluhur yang harus sama-sama kita jaga, bukan mengorbankan salah satunya,” ujar Yelli, Minggu, 12 Juli 2026.

Dalam mengeksekusi konsep zero-waste tersebut, Yelli berkolaborasi dengan Yayasan Ruang Kito Basamo yang dipimpin oleh Novi Rosmita untuk penyediaan konsumsi utama, serta menggandeng Peunajoh Irda untuk penyediaan bubur. Yelli mengakui tantangan terbesar muncul dari kepanitiaan internal dan tim dapur yang sempat mengajukan penolakan karena dinilai sangat merepotkan akibat volume cucian piring yang membengkak.

“Memang sempat ada penolakan karena tim dapur harus bekerja ekstra keras untuk mencuci piring dan sendok setelah acara. Namun, saya meyakinkan mereka bahwa lebih baik kita repot sehari daripada meninggalkan warisan sampah plastik yang baru bisa terurai puluhan bahkan ratusan tahun kemudian,” tegas Yelli.

Baca Juga  Puan Dorong Budaya Pilah Sampah Jadi Gerakan Nasional

Selain mengubah sistem penyajian makanan menjadi prasmanan, panitia juga mewajibkan seluruh peserta workshop kerajinan kasab serta anak-anak peserta lomba mewarnai kaos motif kasab untuk membawa tumbler dan kotak bekal sendiri dari rumah. Langkah sederhana ini terbukti efektif memangkas ratusan potensi sampah kotak nasi, sendok plastik, dan cup plastik yang biasanya mendominasi pasca-acara.

Aksi ini mendapat dukungan penuh dari mitra kolaborasi. “Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Mari lestarikan budaya dan lingkungan,” tutur Novi Rosmita, pendiri Yayasan Ruang Kito Basamo, mempertegas komitmen tersebut.

Rangkaian acara yang diisi dengan penampilan tari ranup lampuan, pemberian penghargaan kepada sepuluh pengrajin kasab Aneuk Jamee, workshop generasi muda, hingga pameran karya tersebut ditutup dengan pemandangan tertib para peserta yang membawa pulang sisa makanan menggunakan wadah pribadi. Melalui inisiatif dari sebuah kampung kecil di Aceh Selatan ini, Yelli berharap dapat memicu kesadaran masyarakat luas bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan formal maupun adat selalu memiliki pilihan untuk berjalan selaras dengan kelestarian alam.[]