Byklik.com | Teheran – Amerika Serikat dan Iran resmi menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua pekan, membuka peluang meredanya konflik yang sebelumnya memicu eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut kesepakatan ini sebagai peluang nyata menuju perdamaian.
“Kita memiliki peluang nyata untuk perdamaian dan kesepakatan yang nyata,” ujarnya, Rabu, 8 April 2026.
Presiden AS Donald Trump menegaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan Iran dalam isu nuklir, termasuk menghentikan pengayaan uranium.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari dampak gencatan senjata, sekaligus menegaskan posisi mereka dalam perundingan lanjutan.
Meski kesepakatan telah tercapai, kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan. AS menyebut ini sebagai “kemenangan militer”, sementara Iran menilai keberhasilan di medan tempur akan diperkuat dalam jalur diplomasi.
Di tengah kesepakatan tersebut, situasi kawasan masih belum sepenuhnya stabil. Israel dilaporkan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon, bahkan menyebut tengah melakukan serangan terbesar sejak operasi darat dimulai.
Sejumlah negara Barat, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa, menyambut gencatan senjata ini dan mendesak semua pihak mematuhinya, termasuk di Lebanon.
“Tujuannya sekarang adalah mencapai akhir perang yang cepat dan berkelanjutan melalui jalur diplomatik,” demikian pernyataan bersama mereka.
AS juga menegaskan akan tetap memantau kepatuhan Iran terhadap isi kesepakatan, sembari membuka ruang negosiasi lanjutan guna mencapai perdamaian permanen.
Meski menjadi titik awal meredakan konflik, gencatan senjata ini dinilai masih rapuh dan sangat bergantung pada komitmen semua pihak untuk menahan diri di lapangan.











