Pendidikan & Karier

Anggota Dewan Soroti Kecurangan UTBK 2026, Minta Pengawasan Diperketat

Avatar
×

Anggota Dewan Soroti Kecurangan UTBK 2026, Minta Pengawasan Diperketat

Sebarkan artikel ini
Para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional (UTBK-SNBT) di Universitas Malikussaleh, Rabu 23 April 2025. [Foto: Dok. Humas Unimal]

Byklik.com | Kupang – Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menyoroti temuan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer–Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di sejumlah lokasi.

Menurut Ledia, praktik kecurangan mencerminkan persoalan mendasar terkait niat dan integritas peserta dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.

“Kalau niatnya sudah tidak benar, hasilnya juga tidak akan benar dan ilmunya tidak berkah,” ujar Ledia saat kunjungan kerja Komisi X di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 22 April 2026.

Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), menuntut sistem pengawasan yang lebih ketat dari penyelenggara ujian.

Baca Juga  TA Khalid Soroti Dana Otsus Aceh Belum Sejahterakan Masyarakat

“Dengan kecanggihan teknologi sekarang, soal yang difoto saja bisa langsung dijawab AI. Ini harus diantisipasi sejak awal,” kata politisi PKS itu.

Meski demikian, ia menegaskan penggunaan AI untuk menjawab soal tidak akan menggantikan kemampuan peserta yang sebenarnya.

“Buat apa dijawab AI? Yang mau kuliah itu pesertanya, bukan AI,” tegasnya.

Selain pengawasan teknis, Ledia menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak dini melalui peran keluarga dan sekolah, khususnya dalam menanamkan nilai kejujuran.

Baca Juga  Ruslan Desak Tol Trans Sumatra Siap Mudik

“Ini bukan soal gengsi, tapi soal ilmu dan keberkahan di masa depan,” ujarnya.

Ia juga meminta kampus dan panitia UTBK memperkuat sistem keamanan, termasuk meninjau kebijakan terkait barang bawaan peserta seperti telepon genggam dan perangkat teknologi lainnya.

“Perlu dipikirkan apakah peserta masih boleh membawa HP atau perangkat lain yang berpotensi disalahgunakan,” katanya.

Ledia menegaskan, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, persoalan utama tetap terletak pada integritas peserta dalam mengikuti seleksi secara jujur dan adil.