MASYARAKAT Aceh menapaki 2026 dengan berat akibat bencana banjir dan longsor. Banyak yang menilai, terjangan banjir ini lebih berat dibandingkan dengan gempa dan tsunami. Bagi yang sudah pernah merasakan kedua bencana tersebut, dalam skala tertentu, pendapat ini dapat dibenarkan.
Akhir tahun seolah menjadi momentum tragis bagi masyarakat Aceh. Gempa tsunami terjadi di akhir tahun 2004, kali ini bencana banjir juga terjadi di akhir tahun yang meninggalkan duka mendalam sampai bertahun-tahun ke depan. Kerugian infrastruktur mungkin bisa diperbaiki bahkan menjadi lebih baik. Namun, duka hati membutuhkan waktu yang tidak bisa diperkirakan, tergantung banyak hal.
Itulah yang kini dihadapi masyarakat Aceh, terlebih mereka yang menjadi korban. Dalam bencana seperti banjir, masyarakat yang tidak menjadi korban secara langsung pun ikut merasakan dampaknya. Pada Desember 2025 lalu, masyarakat yang tidak menjadi korban langsung kesulitan mendapatkan bahan pokok.
Kalaupun ada, harganya naik sampai beberapa ratus persen. Tidak menjadi korban langsung ikut merasakan dampaknya, bagaimana dengan korban yang kehilangan rumah dan harta benda, tentu penderitaannya bertindih-lapis.
Satu bulan setelah bencana berlalu, kehidupan masih belum normal. Listrik yang katanya sudah normal, di waktu tertentu masih padam. Korban yang kehilangan rumah, masih tinggal di pengungsian dan ada di tempat hunian sementara. Mereka tidak bisa mencari nafkah karena berbagai sebab seperti lahan pertanian yang rusak atau tempat usaha yang sudah hancur.
Terbayang kehidupan yang berat di masa depan. Pendidikan anak-anak yang terganggu, puasa Ramadan di daerah bencana dengan segala keterbatasan, dan cetak biru masa depan yang masih kabur. Kehadiran pemerintah—terutama pemerintah pusat—dan donatur masih sangat diharapkan para korban.
Sampai kini dan beberapa bulan ke depan, korban di sejumlah titik masih membutuhkan ikan, sebab belum mampu menggunakan kail. Segera terbayang kehidupan berat di masa pemulihan.
Berbagai kesulitan yang mendera, jangan sampai membuat kehidupan semakin terpuruk. Awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum untuk bangkit. Meski tidak mudah, bencana tsunami 2004 silam sudah memberikan pelajaran untuk bangkit dari kubangan lumpur dan duka.[]











