Byklik.com | Bandung – Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung mendorong pendekatan chaplaincy untuk memperkuat layanan kesejahteraan sosial agar tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik dan materi, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual, emosional, dan kemanusiaan penerima layanan.
Pendekatan tersebut dibahas dalam Seminar Nasional bertajuk “Layanan Pendampingan Spiritual, Emosional, dan Kemanusiaan (Chaplaincy) dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial” yang digelar Kementerian Sosial melalui Poltekesos Bandung di Auditorium Kampus Poltekesos Bandung, Jawa Barat, Rabu, 23 September 2026.
Sekitar 650 peserta dari berbagai kalangan mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari sivitas akademika, jajaran Kementerian Sosial, praktisi pelayanan sosial, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, mengatakan penguatan layanan kesejahteraan sosial membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas dan mampu memahami persoalan penerima layanan secara menyeluruh.
Menurut Zubaedi, peningkatan kapasitas pendamping diperlukan agar intervensi sosial dapat disesuaikan dengan kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Pendamping harus mampu memahami kebutuhan penerima layanan dari berbagai sisi sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat parsial,” kata Zubaedi saat membuka seminar.
Layanan Sosial Perlu Melihat Manusia Secara Utuh
Direktur Poltekesos Bandung Suharma mengatakan pengembangan layanan kesejahteraan sosial harus diiringi pemahaman terhadap berbagai dimensi kehidupan penerima layanan.
Ia menekankan pentingnya melihat manusia secara utuh dalam proses pelayanan sosial, bukan hanya dari kondisi sosial dan fisiknya.
“Tidak hanya persoalan sosial dan fisiknya, tetapi juga kondisi emosional, spiritual, serta kebutuhan untuk mendapatkan dukungan secara manusiawi,” ujar Suharma.
Suharma berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai forum akademis, tetapi menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan dalam praktik pelayanan sosial.
Ia mendorong hasil pembahasan seminar dikembangkan menjadi modul pembelajaran yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi pekerja kesejahteraan sosial.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat dikembangkan modul yang dapat menjadi bahan pembelajaran,” katanya.
Chaplaincy Perlu Didorong dalam Pelayanan Sosial
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kepakaran dalam penyelenggaraan layanan sosial berbasis pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan.
Narasumber yang hadir antara lain Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia RR Rhetno Arobiatul Jauzak, Ketua Yayasan Anugrah Bhakti Barokah Ecek Karyan, Anggota Yayasan Pondok Inabah Suryalaya Sri Nurhayati, Anggota Yayasan Welas Asih Eka Sukmawati, serta Sekretaris Pelayanan Wanita Teritorial Elsi Hariyati Sarimin.
Materi seminar dimoderatori Wakil Direktur I Bidang Akademik Poltekesos Bandung Lina Favourita Sutiaputri. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan peserta yang menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait penerapan chaplaincy dalam pelayanan sosial.
Lina mengatakan diperlukan perubahan paradigma dalam menangani persoalan kesejahteraan sosial di lapangan. Menurut dia, pelayanan sosial tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dan materi.
“Chaplaincy ini adalah pendekatan spiritual dalam menangani masalah kesejahteraan sosial. Jadi, masalah kesejahteraan sosial itu tidak hanya membutuhkan pelayanan yang bersifat fisik atau materi, tetapi juga perlu secara komprehensif,” kata Lina.
Ia mencontohkan pendekatan spiritual dapat menjadi salah satu aspek dalam pendampingan penerima bantuan sosial (bansos). Menurut Lina, penguatan kesadaran dan pemaknaan hidup dapat menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian penerima layanan.
“Andaikan spiritualnya dulu yang disentuh, mungkin misalnya bantuan sosial, banyak orang miskin, mungkin kalau spiritualnya sudah disentuh dan memahami makna arti hidup, mungkin dia akan berpikir sendiri, tidak akan mau lama-lama menjadi penerima bantuan sosial,” jelasnya.
Pendekatan Spiritual Dukung Penerima Manfaat
Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia RR Rhetno Arobiatul Jauzak mengatakan pendekatan spiritual dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam upaya memulihkan martabat dan membangun resiliensi penerima manfaat.
Menurut Rhetno, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep spirituality in social work dalam praktik pekerjaan sosial.
“Dalam pekerjaan sosial kita pun sebetulnya ada yang kita namakan spirituality in social work yang saya kira saat ini kita bisa memberikan perhatian lebih untuk materi ini, dan saya kira ini akan mendukung layanan chaplaincy di Indonesia,” kata Rhetno.
Melalui seminar nasional tersebut, Poltekesos Bandung mendorong penguatan kapasitas dan wawasan sivitas akademika serta pegiat kesejahteraan sosial untuk mengembangkan pendekatan pelayanan yang lebih komprehensif sesuai dengan kebutuhan penerima layanan.***











