Ekonomi & Bisnis

Mahasiswa USK Ciptakan Minuman Kopi Berbahan Buah Nipah

Bambang Iskandar Martin
×

Mahasiswa USK Ciptakan Minuman Kopi Berbahan Buah Nipah

Sebarkan artikel ini
Kopi Nipah (perpaduan kopi Arabika Gayo premium dengan buah nipah (Nypa fruticans) yang dikembangkan Universitas Syiah Kuala (USK). (Foto: Humas USK)

Byklik.com | Banda Aceh – Sejumlah mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) mengembangkan inovasi minuman fungsional berbasis kearifan lokal bertajuk Nipharia yang memadukan kopi Arabika Gayo premium dengan buah nipah (Nypa fruticans).

Produk tersebut dikembangkan sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan komoditas lokal sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir Aceh.

Inovasi tersebut mengantarkan tim Nipharia meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Ketua Tim Nipharia, Teuku Arief Kamilussyifak, mengatakan gagasan pengembangan produk berangkat dari masih rendahnya pemanfaatan buah nipah yang tumbuh di kawasan rawa pesisir Aceh. Padahal, menurutnya, tanaman tersebut memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila diolah menjadi produk bernilai tambah.

“Kami melihat ada kesenjangan antara kekayaan hayati di pesisir Aceh dengan gaya hidup masyarakat modern. Nipharia hadir untuk menjembatani hal tersebut. Kami ingin membuktikan bahwa komoditas lokal yang diolah melalui riset dan strategi pemasaran yang tepat dapat menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing,” kata Arief, Senin, 29 Juni 2026.

Baca Juga  POMDA XIX Berakhir, Kampus Ini Juara Umumnya

Nipharia dikembangkan dalam bentuk minuman cold brew berbahan dasar kopi Arabika Gayo yang dipadukan dengan sirup dan jeli buah nipah sebagai pemanis alami. Selain menghadirkan cita rasa yang khas, minuman tersebut juga mengandung serat sehingga diharapkan menjadi alternatif minuman yang lebih sehat.

Tim pengembang Nipharia. (Foto: Humas USK)

Dosen pembimbing tim, Fakhri Ramadhan, M.Sc., mengatakan pengembangan Nipharia dilakukan melalui pendekatan yang terencana, mulai dari pengolahan bahan baku hingga penyusunan strategi pemasaran, agar produk memiliki prospek bisnis yang berkelanjutan.

“Kami tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga membangun model bisnis yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir sekaligus mendukung pelestarian ekosistem rawa,” ujarnya.

Menurut Fakhri, produk Nipharia telah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Seluruh stok yang dipasarkan dalam ajang Bhayangkara Fest habis terjual. Saat ini, Nipharia dipasarkan dengan harga Rp20 ribu per botol melalui sejumlah kantin di lingkungan kampus, kedai kopi lokal, serta kegiatan Car Free Day (CFD) di Banda Aceh.

Baca Juga  Pemkab Simeulue Gandeng USK untuk Percepatan Visi Blue Economy

Ke depan, tim Nipharia berkomitmen mengembangkan usaha tersebut dengan berfokus pada peningkatan nilai tambah komoditas pesisir, mendorong gaya hidup sehat, memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, serta menjaga kelestarian ekosistem rawa.

Arief berharap Nipharia dapat menjadi contoh pengembangan agroindustri berbasis potensi lokal yang mampu bersaing di pasar modern sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Tim pengembang Nipharia terdiri atas Teuku Arief Kamilussyifak, Zia Mahira, Muhammad Nabil, dan Muhammad Isra Aguza dari Program Studi Manajemen, serta Balqis Nabilah Putri dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Syiah Kuala.***