Byklik.com | Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2026 merupakan pertumbuhan nyata yang dirasakan di lapangan, bukan sekadar angka statistik semata.
Hal itu disampaikan Purbaya saat memberikan keterangan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.
“Itu kan BPS mengumpulkan data dari mana-mana kan? Ditaruh di kertas, jadi di atas kertas. Tapi nggak, itu bukan. Kalau di atas kertas saya tulis 10, selesai. Tapi kan enggak sesuai dengan kenyataan,” ujar Purbaya.
Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) berasal dari hasil survei dan pencatatan aktivitas ekonomi secara riil di masyarakat.
Pemerintah, kata dia, juga melakukan pengecekan silang melalui sejumlah indikator ekonomi seperti penjualan mobil dan sepeda motor, konsumsi semen, belanja masyarakat, hingga penggunaan listrik.
“Itu enggak otomatis sama dengan PDB-nya, tapi sebagai check point betul enggak angka itu? Ketika tumbuhnya naik kencang semua berarti seperti itu,” katanya.
Purbaya mengaku dirinya turut memantau langsung aktivitas ekonomi masyarakat di sejumlah daerah untuk memastikan kondisi ekonomi nasional tetap bergerak positif.
“Ramai terus di mana-mana tuh. Di Jogja ramai, Surabaya ramai, di Bandung ramai. Di Jakarta juga saya jalan-jalan ke mal ramai, di pasar tradisional juga ramai,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya merata dan masih membutuhkan waktu agar dampaknya dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Ekonomi kan mungkin belum sempurna 100 persen. Ini kan kita baru mulai bangkit dari pertumbuhan yang lambat ke pertumbuhan yang lebih cepat, perlu waktu untuk menyebar ke ekonomi secara merata,” kata Purbaya.
Selain membahas pertumbuhan ekonomi, Menkeu Purbaya juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mendekati level Rp17.800 per dolar AS.
Menurutnya, pelemahan rupiah tersebut tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujarnya.
Meski rupiah melemah, Purbaya menyebut imbal hasil atau yield obligasi pemerintah justru mengalami penurunan berkat intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di Perbendaharaan, untuk sedikit membeli supaya yield-nya agak terkendali,” jelasnya.
Ia mengatakan kondisi pasar obligasi yang tetap stabil menjadi sinyal positif bagi investor asing untuk terus berinvestasi di Indonesia.
“Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” pungkasnya.











