Oleh Isra Masjida*
Pernahkah kita merasa tubuh begitu lelah, padahal aktivitas fisik yang kita lakukan sebenarnya biasa saja? Pernahkah kita merasa langkah kaki begitu berat, seolah-olah sedang mendaki tanjakan yang amat terjal, padahal kita hanya sedang berjalan di lantai rumah yang rata?
Bisa jadi, keletihan itu bukan berasal dari otot-otot tubuh kita, melainkan dari dalam dada. Kita sering kali tidak sadar bahwa kita sedang berjalan menyusuri waktu sambil membawa ransel gaib di punggung—sebuah ransel yang penuh sesak berisi batu-batu berat bernama kekecewaan, luka dari perkataan orang lain, hingga ketidakikhlasan atas perlakuan orang di sekitar kita yang belum selesai. Kita menyimpannya begitu rapi, sampai lupa bahwa beban dari dalam itulah yang perlahan-lahan menguras energi hidup kita.
Belakangan ini, di tengah ekspektasi pandangan sosial yang semakin tinggi, pun oleh tuntutan keadaan ideal yang bertebaran di “kutipan-kutipan” bijak yang lewat di lini masa media sosial kita, kita barangkali semakin sering menemukan keadaan yang justru bertolak belakang dengan semua keindahan maya itu.
Kenyataan hidup sering kali menyuguhkan hal yang getir: pengkhianatan oleh orang yang kita percaya, hak-hak kita yang diabaikan, kezaliman yang terus-menerus, serta pengabaian tanggung jawab yang pada akhirnya justru bergeser menjadi beban kita. Belum lagi ditambah dengan penghakiman-penghakiman sosial dari luar yang kadang hanya melihat lapis luarnya saja, tanpa pernah mau tahu remuknya proses di dalam.
Itu semua, jika kita tidak hati-hati mengelolanya, akan dengan sangat mudah menjadi benih-benih dendam yang kita simpan dan kita pupuk di dalam dada. Padahal sejatinya, menyimpan dendam kepada orang lain itu sama halnya dengan kita meminum racun secara terus-menerus, tetapi berharap orang lain yang akan binasa. Tentu saja itu adalah sebuah kemustahilan.
Hati yang menyimpan sakit perlahan-lahan akan memicu penderitaan fisik pula. Energi negatif dari amarah dan luka yang dipelihara tanpa sadar terus menggerogoti imunitas batin, membuat tidur tak lagi nyenyak, dan menjelma menjadi berbagai keluhan tubuh yang nyata. Kita merusak raga kita sendiri demi kesalahan orang lain yang bahkan mungkin sedang tertidur pulas atau tertawa bahagia di luar sana.
Laku pemaafan yang menyembuhkan itu, bagaimanakah ia bisa hadir?
Prosesnya tidak dimulai dengan penyangkalan pura-pura kuat. Pemaafan yang tulus justru harus dimulai dengan kejujuran untuk mengakui rasa sakitnya dilukai, pedihnya dikhianati, dan pilunya dizalimi. Sangat manusiawi jika kita menangis dan merasa hancur. Namun, setelah gemuruh emosi itu perlahan mereda, mari kita ajak hati kita untuk melihat ke dalam diri. Sejujur-jujurnya.
Kita perlu menyadari bahwa dalam setiap lembar peristiwa kehidupan, selalu ada campur tangan Allah di sana. Pun begitu dengan rasa sakit yang tengah kita alami saat ini. Dalam kemahabijaksanaan Allah, selalu ada alasan mengapa hal itu menimpa kita. Dari sekian miliar manusia yang ada di atas bumi, mengapa Allah memilih kita untuk mengalaminya?
Biasanya, setelah proses “melihat ke dalam” secara jujur seperti ini, perlahan-lahan akan hadir sebuah keinsyafan yang mendalam: bahwa kita pulalah yang sebenarnya ikut berkontribusi atas rasa sakit itu. Ketika hati kita dipatahkan dengan begitu hebatnya oleh manusia atau keadaan, bisa jadi itu karena selama ini telah hadir “berhala-berhala” terselubung di dalam hati kita. Baik dari sisi tempat kita menggantungkan harapan, melabuhkan cinta, bahkan memberikan kepercayaan yang mutlak.
Berhala itu bisa berbentuk pasangan, anak, harta benda, jabatan, bahkan popularitas dan nama baik di tengah manusia. Tanpa sadar, kita telah menomorduakan Allah dalam berharap. Maka, rasa sakit dan pengkhianatan yang kita rasakan hari ini seolah menjadi cara ekstrem namun penuh kasih dari Allah untuk menegur kita. Allah sedang menarik kita kembali ke dekapan-Nya, agar kita tidak melangkah terlalu jauh dan tersesat dalam “pemujaan” berhala-berhala duniawi tersebut.
Di sinilah kita tersadari, bahwa ketika rasa sakit itu menjelma menjadi penderitaan raga, kita sering kali sibuk mencari obat ke sana kemari. Padahal akarnya bukan kurangnya obat, melainkan kurangnya insaf. Bagi orang beriman, langkah utama menghadapi perkara yang tidak menyenangkan bukanlah berburu obat, melainkan bersegera untuk tobat—mendahulukan tobat sebelum obat. Dan memaafkan orang lain, setelah rangkaian penyadaran atas klausul sebab-akibat ini, adalah bagian terbesar dari tobat itu sendiri, yang justru akan menjadi obat paling mujarab bagi jiwa dan raga yang diakibatkannya.
Jika kesadaran yang menundukkan ego seperti ini telah hadir, mukjizat penyembuhan itu akan terjadi. Hati akan cenderung mengobati sakitnya sendiri. Kita tidak lagi lelah menghabiskan energi untuk menunjuk kambing hitam di luar sana, karena kita paham bahwa skenario ini sengaja dihadirkan untuk membersihkan hati kita sendiri. Alih-alih menyalahkan orang lain atau keadaan, hati yang patah dan berdarah-darah itu justru bertransformasi menjadi wasilah kematangan ruhiyah dan penyadaran tauhid yang hakiki.
Setelah kita menyadari rahasia besar ini, maka pada akhirnya kita justru akan mensyukuri rasa sakit tersebut. Kita mampu melihat luka itu sebagai sebuah nikmat. Karena bukankah segala sesuatu yang menambah keimanan, mempererat ketergantungan kita kepada Allah, serta melepaskan kita dari belenggu “penghambaan” kepada selain-Nya adalah definisi dari nikmat yang tertinggi?
Bagi seorang mukmin, dimensi memaafkan pada akhirnya memang akan melangkah sejauh itu. Kita menundukkan ego untuk memaafkan sesama karena kita sadar sesadar-sandarnya: diri kita sendiri pun adalah tempatnya khilaf dan penuh dengan dosa di hadapan Allah. Kita memaafkan karena kita rindu pada ampunan Allah. Kerinduan dan perintah untuk bergegas menjemput ampunan ini diabadikan dengan begitu indah dalam Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 133–134:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS Ali ‘Imran: 133–134)
Ada janji surga dan cinta Allah di balik setiap helaan napas yang kita gunakan untuk mengikhlaskan perlakuan buruk orang lain. Menariknya, setelah kita mampu melunakkan hati untuk melepaskan kesalahan orang lain demi Allah, riak kedamaian itu akan mengalir ke dalam. Pada akhirnya, kita juga akan belajar untuk memaafkan diri kita sendiri—memaafkan keterbatasan kita yang tidak bisa mengubah sikap semua orang agar sesuai dengan harapan kita. Tugas kita hanyalah menjaga adab dan ketulusan; selebihnya adalah wilayah yang harus kita pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Malam ini, ketika riuh rendah dunia mulai mereda, mungkin ini saat yang tepat untuk mengetuk pintu hati kita sendiri. Mari perlahan-lahan letakkan batu-batu beban yang melelahkan itu. Buang sisa racun yang sempat kita minum, runtuhkan berhala-berhala harapan makhluk di dalam hati, dan lepaskan kekecewaan pada mereka yang pernah menggoreskan luka.
Jangan takut kehilangan harga diri karena memaafkan, sebab Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tidaklah Allah memberikan tambahan kepada seorang hamba yang suka memaafkan melainkan kemuliaan di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)
Memaafkan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi memaafkan dengan tulus karena Allah dipastikan akan melapangkan jalan, meningkatkan derajat kita, dan meringankan langkah kita untuk menyambut hari esok dengan jiwa yang merdeka, penuh syukur, dan bertauhid sepenuhnya.
Sebab pada ujung perjalanan batin ini, jiwa yang telah disembuhkan tidak akan lagi sekadar berhenti pada laku memaafkan. Jauh melampaui itu, ia akan melesat naik menuju puncak ketundukan yang paling sunyi: sebuah keridaan mutlak. Hati tidak lagi berdebat, batin tidak lagi menggugat. Ia rida—serida-ridanya—terhadap segala skenario dan ketetapan yang telah Allah gariskan, selembut apa pun fajar kemudahan atau segetir apa pun badai perlakuan manusia yang harus dilewatinya.
Di titik keinsyafan tertinggi inilah, semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa-jiwa tenang yang dipanggil pulang dengan pelukan kasih sayang-Nya, “Mereka rida terhadap Allah dan Allah pun rida kepada mereka.”
Sebab kita tahu, pada sekeping hati yang telah lapang oleh pelukan keridaan, di sanalah hakikat surga dunia itu berada. Sebuah oase kedamaian abadi yang telah Allah hadiahkan untuk kita cicipi keindahannya, bahkan ketika kedua kaki kita masih rapuh menapak di dunia.
Jadi, untukmu yang batinnya sedang lelah… rebahkanlah sejenak penatmu di hamparan sajadah. Peluk erat-erat takdirmu, lalu bisikkanlah pada hatimu sendiri dengan penuh kelembutan, “Wahai jiwa, mari kita pulang ke dekapan rida-Nya. Mari kita maafkan, mari kita sembuh…”[]
*Penulis adalah seorang istri, ibu dari empat anak, guru mengaji, dan ASN di Aceh Tengah











