Byklik.com | Banda Aceh – Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menilai film dokumenter Pesta Babi menjadi peringatan dini terhadap ancaman kerusakan lingkungan dan konflik agraria akibat proyek-proyek berskala nasional.
Hal itu disampaikan Koordinator MaTA, Alfian, usai pemutaran film di halaman kantor Lembaga Bantuan Hukum Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2026 malam.
Menurut Alfian, konflik lahan adat, kerusakan hutan, dan persoalan ekologis yang digambarkan dalam film tersebut dapat menjadi pelajaran penting bagi Aceh agar tidak mengalami kondisi serupa.
“Maka dari film ini, menjadi dorongan untuk kita bersama sehingga kebijakan yang sudah dilakukan oleh pemerintah, ada pencegahan namun tidak dihiraukan, dan bisa jadi akan terjadi juga di tanah Aceh nantinya,” ujarnya.
Ia mengatakan Aceh yang selama ini kerap dilanda bencana ekologis perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kebijakan pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Menurutnya, pengawasan terhadap kebijakan negara, terutama program nasional, masih lemah sehingga membuka peluang terjadinya konflik agraria dan kerusakan alam.
“Hampir 12 tahun KPK dan Kejaksaan Agung itu tidak pernah melakukan kajian dan review terhadap kebijakan-kebijakan negara terutama pada program berbasis nasional,” katanya.
Alfian menambahkan, pemutaran film tersebut bukan hanya bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat di Papua, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat Aceh untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dan hutan.
“Ini menjadi pengetahuan baru untuk kita, bukan hanya solidaritas, tapi kita turut menjaga kondisi lingkungan kita dan juga hutan kita,” tutupnya.











