Nasional

Barantin Luncurkan Finquest Perkuat Pembiayaan Karantina

Bambang Iskandar Martin
×

Barantin Luncurkan Finquest Perkuat Pembiayaan Karantina

Sebarkan artikel ini
Badan Karantina Indonesia (Barantin) meluncurkan inovasi pembiayaan bertajuk Financing for Quarantine Enhancement and Strategic Transformation (Finquest) untuk menjawab meningkatnya risiko masuk dan penyebaran hama serta penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan di Indonesia, Senin, 13 April 2026. (Ist)

Byklik.com | Jakarta – Badan Karantina Indonesia (Barantin) meluncurkan inovasi pembiayaan bertajuk Financing for Quarantine Enhancement and Strategic Transformation (Finquest) untuk menjawab meningkatnya risiko masuk dan penyebaran hama serta penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan di Indonesia.

Inovasi tersebut dihadirkan guna mengatasi kesenjangan pembangunan infrastruktur karantina di berbagai wilayah. Melalui Finquest, pembiayaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan mengintegrasikan berbagai sumber pendanaan.

Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Barantin, Benny Alamsyah, mengatakan Finquest merupakan terobosan strategis dalam mentransformasi sistem pembiayaan pembangunan karantina.

“Finquest mengintegrasikan pendanaan dari berbagai sumber, seperti APBN, Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN), hingga Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), termasuk peluang investasi dengan pihak swasta,” ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Baca Juga  Kementan Genjot Hilirisasi Pertanian untuk Dukung Kemandirian Energi

Menurut Benny, transformasi melalui Finquest difokuskan pada lima intervensi utama, yakni pembiayaan pembangunan, modernisasi infrastruktur karantina, digitalisasi dan integrasi layanan, penguatan sistem biosekuriti nasional, serta reformasi tata kelola dan kelembagaan.
I

a menambahkan, inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong terwujudnya sistem karantina yang modern, adaptif, dan terintegrasi. Hal ini sejalan dengan program prioritas Kepala Barantin, Sahat Manaor Panggabean, yang mencakup revitalisasi laboratorium, penguatan sumber daya manusia, dan digitalisasi layanan.

“Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas layanan, melindungi sumber daya hayati, serta mendukung kelancaran arus perdagangan yang aman, sehat, dan berdaya saing global,” jelasnya.

Pada tahap awal implementasi, Finquest telah menunjukkan capaian. Sepanjang 2025, modernisasi peralatan laboratorium menjangkau 18 unit pelaksana teknis dengan nilai Rp34,45 miliar. Sementara pada 2026, dialokasikan anggaran sebesar Rp307 miliar, termasuk Rp79 miliar dari SBSN untuk pembangunan instalasi, gedung, dan sarana laboratorium.

Baca Juga  Kesiapan Kemenhaj Kelola Kesehatan Haji Dipertanyakan DPR RI

Selain itu, Barantin menjalin sejumlah kerja sama, di antaranya dengan PT Pelindo III di Cilacap, Jatim Graha Utama di Puspa Agro Jawa Timur, serta pengembangan skema KPBU untuk laboratorium rujukan nasional senilai Rp356,7 miliar yang kini memasuki tahap studi kelayakan.

Finquest juga berhasil mengamankan komitmen pembiayaan luar negeri sebesar 250 juta dolar AS dari Bank Dunia dan Islamic Development Bank, serta hibah sekitar 1,6 juta dolar AS. Dari sisi layanan, pada 2025 Barantin menerbitkan 386.475 sertifikat ekspor dan 144.007 sertifikat impor.

Ke depan, transformasi ini akan diperkuat melalui digitalisasi layanan berbasis sistem Best Trust serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kerja sama internasional.

“Finquest diharapkan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan sistem karantina Indonesia yang modern, efisien, dan berstandar internasional,” pungkas Benny.***