HeadlineInternasional

Pejabat Kontraterorisme AS Mundur, Tolak Perang Iran

Avatar
×

Pejabat Kontraterorisme AS Mundur, Tolak Perang Iran

Sebarkan artikel ini
Joe Kent menghadiri sidang Komite Intelijen Terpilih DPR bertajuk “Penilaian Ancaman Global”. [Foto: Tom Williams/CQ-Roll Call, Inc melalui Getty Images]

Byklik.com | Washington – Direktur National Counterterrorism Center, Joe Kent, resmi mengundurkan diri pada Selasa, 17 Maret 2026, sebagai bentuk penolakan terhadap perang yang dilancarkan pemerintahan Donald Trump terhadap Iran.

Pengunduran diri Kent menjadikannya pejabat tinggi pertama di lingkaran pemerintahan Trump yang mundur secara terbuka akibat konflik tersebut. Ia menyatakan tidak dapat mendukung kebijakan perang yang dinilai tidak memiliki dasar ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.

“Saya tidak dapat dengan hati nurani mendukung perang ini,” tulis Kent dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa Iran “tidak menimbulkan ancaman langsung” bagi negaranya.

Baca Juga  Indonesia Siap Mediasi Ketegangan AS–Iran

Kent bahkan menilai perang tersebut dipicu oleh tekanan eksternal, termasuk dari Israel dan lobi politik di Amerika. Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Gedung Putih yang menyebut keputusan militer didasarkan pada intelijen kuat terkait ancaman Iran.

Sebagai kepala lembaga kontraterorisme, Kent sebelumnya bertanggung jawab dalam analisis dan deteksi ancaman teror terhadap keamanan nasional AS. Ia baru menjabat sejak Juli 2025 setelah dikonfirmasi Senat dengan selisih suara tipis.

Baca Juga  Polda Jawa Barat Bongkar Sindikat Perdagangan Bayi

Pengunduran diri ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global dan kekhawatiran terhadap ancaman teror, termasuk sejumlah serangan domestik di AS dalam beberapa waktu terakhir.

Langkah Kent juga memperlihatkan adanya perpecahan internal dalam pemerintahan Trump terkait kebijakan luar negeri, khususnya menyangkut justifikasi penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.

Sementara itu, Presiden Trump merespons keras keputusan tersebut dengan menyebut Kent “lemah dalam keamanan” dan menegaskan bahwa Iran tetap menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat.