Opini & Analisis

Indonesia Banyak Berkawan, Diplomasi sebagai Jalan Kekuatan Bangsa

Avatar
×

Indonesia Banyak Berkawan, Diplomasi sebagai Jalan Kekuatan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Aceh, Dicky Saputra [Ist]

Oleh Dicky Saputra

Jika kita menelusuri perjalanan sejarah dunia, hampir semua negara besar membangun kekuatannya bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari jaringan hubungan internasional yang luas. Tidak ada negara yang menjadi kuat hanya dengan menutup diri. Bahkan negara yang tampak sangat kuat sekalipun tetap aktif menjalin kerja sama, membangun aliansi, dan membuka hubungan perdagangan dengan banyak pihak.

Indonesia pun perlu memahami kenyataan ini. Dengan jumlah penduduk lebih dari 275 juta jiwa serta posisi geografis yang berada di persimpangan jalur perdagangan dunia, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan penting di masa depan.

Namun potensi itu tidak akan berkembang maksimal jika Indonesia tidak membuka diri dan memperluas jaringan pertemanannya di tingkat global.

Karena itulah diplomasi menjadi salah satu instrumen kekuatan bangsa.

Dunia yang Saling Terhubung

Di era globalisasi, hubungan antarnegara menjadi semakin kompleks. Perdagangan internasional, investasi lintas negara, kerja sama teknologi, hingga keamanan kawasan kini saling berkaitan.

Indonesia saat ini aktif dalam berbagai forum internasional penting. Salah satunya adalah Group of Twenty (G20), yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Forum ini mewakili sekitar 85 persen ekonomi global serta lebih dari 75 persen perdagangan dunia.

Di tingkat regional, Indonesia juga memainkan peran strategis dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yang terdiri dari sepuluh negara Asia Tenggara dengan total populasi lebih dari 650 juta penduduk. ASEAN kini berkembang menjadi salah satu kawasan ekonomi paling dinamis di dunia.

Selain itu, Indonesia juga aktif dalam berbagai forum lain seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement), yang sejak awal menjadi simbol sikap politik luar negeri Indonesia yang tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun.

Baca Juga  Duta Besar Kanada Kunjungi Aceh, Ada Apa?

Keikutsertaan dalam berbagai forum ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan global, tetapi juga berusaha menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dunia.

Politik Bebas Aktif: Warisan Strategis

Prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif bukan sekadar slogan. Prinsip ini telah lama menjadi fondasi diplomasi Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Tokoh bangsa Mohammad Hatta pernah menegaskan bahwa Indonesia harus bebas menentukan sikapnya sendiri dalam menghadapi pertarungan kekuatan dunia.

Artinya, Indonesia boleh bekerja sama dengan siapa saja, tetapi tidak boleh menjadi bagian dari pertarungan blok kekuatan global.

Prinsip ini terbukti tetap relevan hingga hari ini. Dunia kembali memasuki fase persaingan geopolitik yang semakin tajam antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam situasi seperti ini, banyak negara harus berhati-hati agar tidak terseret terlalu jauh ke dalam rivalitas kekuatan besar tersebut.

Indonesia memilih jalan yang lebih bijak: menjaga hubungan baik dengan semua pihak.

Dengan pendekatan ini, Indonesia dapat menjalin hubungan perdagangan yang kuat dengan Tiongkok sekaligus memperkuat kerja sama pertahanan, teknologi, dan pendidikan dengan Amerika Serikat serta negara-negara Barat.

Biaya Diplomasi yang Tidak Murah

Namun membangun jaringan pertemanan internasional tentu bukan tanpa biaya.

Untuk menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai negara, Indonesia harus memiliki ratusan perwakilan luar negeri. Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 130 kedutaan besar dan konsulat yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Indonesia juga aktif mengirim delegasi ke berbagai konferensi internasional, pertemuan ekonomi global, dialog keamanan regional, hingga forum perubahan iklim.

Baca Juga  Isu Perdamaian Aceh Kembali Menguat, PCNU Lhokseumawe Soroti Peran Sentral Mualem

Semua aktivitas ini membutuhkan sumber daya yang tidak kecil: biaya diplomasi, perjalanan delegasi, penyelenggaraan konferensi, hingga berbagai kegiatan kerja sama internasional lainnya.

Dalam praktiknya, diplomasi juga sering berlangsung dalam suasana yang lebih santai—diskusi sambil minum kopi, bertukar gagasan di ruang pertemuan informal, atau membangun kepercayaan melalui percakapan panjang di luar forum resmi. Ada yang mengajak bertemu di kafe internasional, ada pula yang lebih nyaman berdiskusi di kedai kopi sederhana.

Namun di balik semua itu, diplomasi tetap memiliki tujuan yang sangat serius.

Dari diplomasi lahir perjanjian perdagangan.
Dari diplomasi datang investasi baru.
Dari diplomasi terbuka peluang kerja sama teknologi dan pendidikan.

Singkatnya, diplomasi adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan masa depan yang lebih maju.

Berkawan Luas, Berdiri Tegak

Pada akhirnya, kekuatan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah atau besarnya jumlah penduduk.

Kekuatan Indonesia juga ditentukan oleh kemampuannya membangun jaringan kerja sama global.

Indonesia harus berteman dengan banyak negara: negara besar maupun kecil, negara maju maupun berkembang.

Namun dalam setiap hubungan itu, Indonesia harus tetap menjaga jati dirinya.

Berkawan luas, tetapi tidak kehilangan arah.
Bekerja sama dengan siapa saja, tetapi tetap berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka.

Karena dalam dunia yang semakin saling terhubung ini, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan yang dimiliki di dalam negeri, tetapi juga oleh seberapa luas tangan persahabatan yang kita ulurkan kepada dunia.

Dan bagi Indonesia, jalan itu sebenarnya sudah jelas:

Berkawan dengan semua, tanpa kehilangan jati diri sebagai Indonesia.

 

Dicky Saputra adalah Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Aceh