Byklik.com | Saree – Penutupan sementara Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) Seksi 1 Padang Tiji-Seulimeum membuat kendaraan kembali memadati jalan nasional lintas Saree sebagai jalur utama perjalanan Banda Aceh-Medan maupun sebaliknya.
PT Hutama Karya (Persero) menutup sementara operasional Seksi 1 Padang Tiji-Seulimeum mulai Rabu, 9 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 07.00 WIB.
Penutupan dilakukan untuk pelaksanaan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) terhadap ruas tol yang masih berstatus operasional fungsional. Pengujian tersebut menjadi salah satu tahapan sebelum ruas tol dapat beroperasi penuh untuk masyarakat.
Selama penutupan, kendaraan dari Banda Aceh menuju Medan maupun sebaliknya kembali menggunakan jalan nasional lintas Saree. Kondisi tersebut membuat arus kendaraan di jalur pegunungan itu lebih ramai dibandingkan saat Tol Sibanceh beroperasi.
Salah seorang pengguna jalan, Iqbal, mengatakan peningkatan jumlah kendaraan cukup terasa ketika melintasi kawasan Saree. Kendaraan pribadi hingga angkutan barang terlihat lebih banyak menggunakan jalur tersebut.
“Biasanya kalau tol bisa dilewati, kendaraan di jalan Saree tidak seramai ini. Sekarang terasa lebih padat, terutama kendaraan dari arah Banda Aceh menuju Sigli dan sebaliknya. Banyak kendaraan yang biasanya masuk tol kembali lewat jalan nasional,” kata Iqbal, Kamis, 10 September 2026.
Meski arus kendaraan meningkat, Iqbal mengatakan perjalanan masih berlangsung lancar. Namun, pengendara harus lebih berhati-hati karena jalan kembali dipadati berbagai jenis kendaraan, termasuk bus dan truk angkutan barang.
“Masih bisa jalan, cuma harus lebih hati-hati karena kendaraan besar juga banyak. Kalau biasanya lewat tol perjalanan lebih nyaman dan cepat, sekarang harus menyesuaikan lagi dengan kondisi jalan lintas,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Rudi, sopir truk yang melakukan perjalanan menuju Bireuen. Ia mengaku sudah hampir dua tahun tidak menggunakan jalan nasional lintas Saree karena selama ini memilih Tol Sibanceh.
“Sudah hampir dua tahun saya tidak lewat Saree karena biasanya lewat tol. Hari ini karena tol ditutup, terpaksa kembali lewat jalur lama. Lumayan terasa bedanya karena di sini jalannya naik turun dan banyak tikungan,” katanya.
Menurut Rudi, keberadaan Tol Sibanceh selama ini membantu pengemudi angkutan barang, terutama dalam memangkas waktu perjalanan serta menghindari sejumlah tanjakan dan tikungan di kawasan pegunungan Saree.
“Menurut saya, jalan tol memang lebih membantu. Perjalanan lebih cepat dan jalannya juga lebih nyaman. Kalau lewat Saree seperti dulu, kami harus lebih pelan, apalagi saat membawa muatan. Tanjakan, turunan dan tikungannya harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.
Ia menilai ramainya kendaraan di lintas Saree kali ini mengingatkan kondisi sebelum Tol Sibanceh menjadi jalur alternatif perjalanan Banda Aceh menuju sejumlah daerah di pantai timur Aceh.
“Dulu memang setiap perjalanan lewat sini. Setelah ada tol sudah jarang sekali. Sekarang lewat lagi terasa seperti kembali ke jalur lama. Kendaraannya juga ramai karena semuanya lewat sini,” katanya.











