Byklik.com | Bandung – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan energi panas bumi untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk. Inovasi tersebut ditujukan untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, panas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber listrik bersih. Energi tersebut juga dapat digunakan untuk mempercepat proses pengolahan limbah organik.
“Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” kata Andi Joko melalui keterangan resmi, Sabtu, 3 Oktober 2026.
General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan, inovasi tersebut dikembangkan melalui pupuk Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert).
Menurutnya, GeO-Fert menghubungkan pemanfaatan energi bersih dengan pengelolaan limbah. Program ini juga mendukung pertanian berkelanjutan dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Teknologi tersebut mampu mempercepat proses pengeringan pupuk organik. Waktu pengeringan yang sebelumnya mencapai 14 hari kini dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.
Pemanfaatan GeO-Fert juga memberikan dampak ekonomi bagi petani. Salah satunya terlihat pada lahan seluas 1,2 hektare milik Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.
Pada lahan tersebut, petani menggunakan 30 ton pupuk GeO-Fert. Hasilnya mencapai sekitar 70 ton kubis varietas Granova dengan nilai penjualan sekitar Rp78 juta.
Penggunaan pupuk tersebut juga meningkatkan ukuran kubis. Bobotnya mencapai hingga 6 kilogram per buah.
Selain itu, petani berhasil menghemat biaya pembelian pupuk hingga sekitar Rp20 juta.
Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni dan Kepala Desa Laksana Uu Budiman menyampaikan apresiasi atas keterlibatan masyarakat dalam produksi pupuk dan pengolahan limbah.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PGE juga terintegrasi dalam Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah. Program tersebut didukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh.
Pemanfaatan GeO-Fert juga telah diterapkan pada sejumlah komoditas lain. Di antaranya kentang, kopi, cabai, tomat, dan labu siam.
Keberhasilan program tersebut dirayakan melalui kegiatan HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert. Kegiatan itu digelar PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, warga juga memperkenalkan berbagai produk pemberdayaan lokal. Produk itu antara lain keripik hasil bumi KWT Srikandi Gayatri Lestari, teh daun kopi Kelompok GCP, serta pakan dan ikan asin hasil pengeringan menggunakan Geothermal Dry House milik Kelompok Budidaya Ikan Mekarjaya.
Program tersebut menunjukkan pemanfaatan panas bumi tidak berhenti pada produksi energi bersih. Teknologi itu juga dapat mendukung pengelolaan limbah, pertanian, serta penguatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi.











