Byklik.com | Bogor – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di IPB University menghadirkan momen berbeda. Seusai upacara, mahasiswa internasional berkumpul dalam International Student Forum (ISF) untuk berbagi pengalaman tentang sistem pendidikan di negara masing-masing.
Forum yang digelar Direktorat Pendidikan Internasional IPB ini menjadi ruang diskusi lintas budaya sekaligus ajang memperluas wawasan tentang keberagaman pendidikan global.
Direktur Pendidikan Internasional IPB University, Dr Raden Dikky Indrawan, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar forum berbagi, melainkan sarana membangun masa depan bersama melalui pendidikan.
“Acara ini adalah momentum penting bagi pendidikan Indonesia. Perbedaan budaya bukan penghalang, tetapi kekuatan untuk tumbuh bersama menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Dikky saat membuka kegiatan di Collaborative Lounge, Kampus IPB Dramaga.
Ia menjelaskan, pengalaman belajar lintas negara memberi perspektif luas terhadap sistem pendidikan dan budaya yang beragam. Menurutnya, hal itu menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan global.
IPB University, lanjut Dikky, terus memperkuat strategi internasionalisasi dengan menargetkan jumlah mahasiswa asing mencapai minimal 6 persen atau sekitar 2.500 orang dalam beberapa tahun ke depan.
“Untuk mendukung itu, kami menghadirkan berbagai beasiswa internasional dan program kolaboratif dengan mitra industri global,” katanya.
Dalam forum tersebut, mahasiswa asal Kenya, Samuel Kamau Maina, memaparkan bahwa sistem pendidikan di negaranya berbasis kompetensi dengan penekanan pada keterampilan praktis, kreativitas, dan literasi digital.
“Pendidikan di Kenya juga mengintegrasikan nilai lingkungan dan keberlanjutan dalam kurikulum,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor pertanian di Kenya menyumbang hampir 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga membuka peluang kolaborasi riset dengan Indonesia yang memiliki potensi agrikultur serupa.
Sementara itu, mahasiswa asal Pakistan, Waseem Ahmed, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negaranya terdiri dari tiga jalur utama, yakni pemerintah, swasta, dan madrasah.
“Ketiganya berjalan paralel dan saling melengkapi dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten,” katanya.
Waseem juga menegaskan bahwa pendidikan di Pakistan merupakan hak fundamental yang dijamin negara, khususnya bagi anak usia 5 hingga 16 tahun.
Pandangan serupa disampaikan mahasiswa asal Prancis, Mila Rose, yang menilai setiap negara memiliki pendekatan pendidikan yang unik, mulai dari teori hingga praktik klinis.
“Pengalaman belajar lintas negara menunjukkan bahwa pendidikan tidak terbatas oleh batas geografis,” ujarnya.
Melalui forum ini, IPB University menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi internasional dan menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif di tingkat global.











