Nasional

Kementan Perkuat Peternakan Menuju Swasembada Protein

Bambang Iskandar Martin
×

Kementan Perkuat Peternakan Menuju Swasembada Protein

Sebarkan artikel ini
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, saat soft launching Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 Tahun 2026 di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat, 21 Agustus 2026. (Foto: Kementan)

Byklik.com | Malang – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan untuk mendukung terwujudnya swasembada protein hewani. Upaya tersebut salah satunya ditandai dengan soft launching Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 Tahun 2026 di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Swasembada Protein Hewani untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur” tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun peternakan yang mandiri, berdaya saing, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan soft launching digelar lebih awal sebelum rangkaian Bulan Bakti yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus hingga 26 September 2026.

Menurut Agung, Bulan Bakti tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan panjang subsektor peternakan dan kesehatan hewan sekaligus memperkuat semangat melanjutkan pembangunan yang telah dirintis para pendahulu.

“Bukan hanya seremoni, tetapi yang paling penting adalah kita ingin terus menggaungkan kerja-kerja kita, khususnya di subsektor peternakan dan kesehatan hewan,” ujar Agung.

Memasuki usia 190 tahun, perjalanan subsektor peternakan dan kesehatan hewan dinilai perlu menjadi bahan refleksi sekaligus pijakan untuk melakukan transformasi. Agung menyebut perhatian terhadap keberlanjutan peternakan telah dilakukan sejak masa awal perkembangannya, salah satunya melalui kebijakan pelarangan pemotongan betina produktif.

Menurut Agung, semangat tersebut perlu diperkuat agar pembangunan peternakan saat ini tetap memiliki kesinambungan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan pada masa sebelumnya.

Karena itu, unit pelaksana teknis, pemerintah daerah, organisasi profesi, hingga mahasiswa didorong untuk turut menyemarakkan Bulan Bakti melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Dorong Swasembada Protein Hewani

Agung mengatakan tema swasembada protein hewani yang diangkat dalam Bulan Bakti 2026 merupakan visi yang perlu diwujudkan secara bersama oleh seluruh pemangku kepentingan.

Menurut dia, swasembada tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi daging, telur, dan susu, tetapi juga menyangkut kedaulatan produksi, kesejahteraan peternak, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Swasembada protein hewani bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak daging, telur, dan susu, tetapi juga berdaulat yang berarti mampu memenuhi kebutuhan protein dari kekuatan produksi sendiri. Adil berarti pada saat produksi tumbuh, peternak harus mendapatkan bagian yang layak, dan makmur berarti kemajuan itu bermuara pada pendapatan, lapangan kerja, dan ekonomi masyarakat yang terus harus kita tingkatkan,” katanya.

Agung menuturkan, Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan strategis, termasuk daging ayam dan telur ayam. Menurut dia, produksi kedua komoditas tersebut telah mengalami surplus sehingga Indonesia dapat membuka pasar ekspor ke sejumlah negara.

Baca Juga  Kapolri Imbau WFA untuk Urai Puncak Arus Balik Lebaran 2026

Kondisi tersebut menjadi salah satu modal dalam memperkuat kedaulatan pangan. Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.

Untuk komoditas susu, produksi dalam negeri disebut masih sekitar 1 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 4,8 juta ton setara susu segar.

“Khusus untuk komoditas peternakan, saat ini kita masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Untuk komoditas daging sapi dan susu, saat ini kita masih membutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujar Agung.

Jaga Keseimbangan Produksi dan Permintaan

Di tengah kondisi surplus pada sektor unggas, pemerintah juga berupaya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan produksi tidak berujung pada penurunan harga yang dapat merugikan peternak.

Agung mengatakan pemerintah terus mencari langkah untuk menjaga harga tetap memberikan keuntungan bagi peternak sekaligus terjangkau masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong peningkatan konsumsi telur serta memastikan penyerapan produk dari peternak rakyat. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan telur dalam berbagai kegiatan pemenuhan konsumsi, termasuk melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Agung, peningkatan produksi perlu diikuti peningkatan permintaan agar keberlanjutan usaha peternakan tetap terjaga.

Selain itu, penguatan sektor peternakan membutuhkan dukungan investasi dan pemerataan sentra produksi. Saat ini, produksi daging ayam dan telur masih terkonsentrasi di sejumlah provinsi, terutama di Pulau Jawa.

Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan mendorong pengembangan peternakan di luar sentra produksi. Kabupaten Malang menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki potensi untuk pengembangan peternakan ayam dan sapi perah.

“Malang ini kaya sekali,” kata Agung seraya menyebut peluang pengembangan peternakan sapi perah berskala besar di wilayah tersebut.

BBIB Singosari Perkuat Pengembangan Peternakan

Agung menjelaskan, pemilihan BBIB Singosari sebagai lokasi soft launching dilakukan karena balai tersebut merupakan salah satu pusat unggulan di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Selain memproduksi semen beku untuk mendukung perbaikan genetik ternak, BBIB Singosari memiliki sejumlah fasilitas yang dikembangkan melalui dukungan anggaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), termasuk laboratorium dan fasilitas peternakan sapi perah terintegrasi.

“BLU BBIB Singosari adalah salah satu center of excellence, khususnya UPT lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang statusnya sudah ditetapkan sebagai badan layanan umum. Di sini bukan hanya memproduksi semen beku untuk perbaikan genetik kita,” ujarnya.

Baca Juga  Kementan Gelar Panen Raya Kedelai, Perkuat Swasembada Pangan

Agung menambahkan, penguatan produksi peternakan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesehatan hewan dan keamanan produk.

Perubahan iklim serta kondisi cuaca yang tidak menentu dinilai dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit hewan. Oleh karena itu, vaksinasi, pengobatan, edukasi, dan pelayanan kesehatan hewan perlu terus diperkuat.

Ia juga mendorong percepatan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) bagi unit usaha produk hewan. Sertifikasi tersebut penting untuk memastikan produk yang beredar memenuhi persyaratan keamanan dan kesehatan serta mendukung ketertelusuran produk.

BBIB Diharapkan Beri Manfaat bagi Peternak

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar Anwar, berharap keberadaan BBIB Singosari dapat memberikan manfaat lebih luas bagi peternak dan masyarakat.

Menurut Budiar, fasilitas dan kapasitas laboratorium BBIB Singosari diharapkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan internal, tetapi juga dapat mendukung peningkatan produktivitas peternak di daerah.

“Besar harapan kami kepada BBIB untuk bisa memberikan masukan kepada para peternak. Hasilnya nanti, hasil laboratorium ini bisa digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BBIB Singosari, Akbar Yasin, menegaskan pihaknya siap menjadikan momentum Bulan Bakti sebagai bagian dari upaya memperkuat peran BBIB dalam transformasi peternakan nasional.

Menurut Akbar, BBIB tidak hanya berfokus pada produksi semen beku, tetapi juga berupaya berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas ternak, pendapatan peternak, dan keberlanjutan pembangunan peternakan.

“Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan, memberikan manfaat nyata, dan menjadi bagian dari ikhtiar besar membangun peternakan Indonesia yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan,” kata Akbar.

Akbar mengatakan perjalanan 190 tahun subsektor peternakan dan kesehatan hewan merupakan perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan peternak, inovasi insan peternakan, dedikasi pemerintah, serta kontribusi dunia usaha dan perguruan tinggi.

Karena itu, Bulan Bakti diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan bukan sekadar sebuah rangkaian kegiatan. Ini adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat 190 tahun perjalanan peternakan Indonesia,” ujarnya.

Rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 akan berlangsung pada 26 Agustus hingga 26 September 2026 di berbagai daerah.

Berbagai kegiatan, mulai dari pelayanan, edukasi, vaksinasi, penguatan usaha peternakan, hingga pengabdian kepada masyarakat, diharapkan menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah dan insan peternakan.

Peringatan 190 tahun tersebut diarahkan untuk memperkuat upaya mewujudkan swasembada protein hewani, meningkatkan kesejahteraan peternak, serta memperkuat kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan.***