Byklik.com | Yogyakarta – Kementerian Kehutanan mendorong generasi muda aktif menjaga ekosistem Gunung Merapi dan meningkatkan kepedulian terhadap risiko bencana, termasuk ancaman lahar dingin.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Forest Youthverse Resilience Summit Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan P2SDM, bersama Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta pada 17–18 September 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Forest Guardians of Merapi: Youth in Action Against Cold Lava Floods” tersebut membekali peserta dengan pemahaman mengenai kondisi ekosistem lereng Merapi, upaya pemulihan kawasan, serta pentingnya kolaborasi dalam mengurangi risiko bencana ekologis.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, mengatakan generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengambil peran nyata dalam menjaga kawasan Merapi.
“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi Forest Guardians of Merapi. Kita tidak hanya mendorong mereka untuk memahami ekosistem, tetapi juga membekali mereka untuk melahirkan solusi nyata dan aksi kolaboratif dalam menghadapi ancaman bencana lahar dingin,” ujar Luckmi.
Pemuda Kembangkan Inovasi Wisata Merapi
Selain mendapatkan pemahaman mengenai ekosistem dan risiko bencana, peserta juga didorong mengembangkan gagasan inovatif untuk memperkenalkan kawasan Merapi kepada masyarakat dan wisatawan.
Semangat “Kenali Merapi, Sejarahnya, Nikmati Wisatanya” diwujudkan melalui sejumlah gagasan, salah satunya Merapi Smart Tourism Board.
Inovasi tersebut berupa media informasi wisata yang memadukan peta kawasan, sejarah, destinasi wisata, kebutuhan wisatawan, karakter animasi, video, serta kode QR yang menghubungkan pengguna dengan informasi digital mengenai Merapi.
Genries DIY, Gayatri, mengatakan Merapi Smart Tourism Board lahir dari kolaborasi peserta dengan latar belakang keahlian yang beragam, mulai dari pertanahan, pariwisata, psikologi, animasi, hingga penyiaran.
“Keunggulan Merapi Smart Tourism Board ada pada kolaborasinya. Kami tidak hanya membuat peta atau media informasi, tetapi mencoba melihat kebutuhan wisatawan dari berbagai sisi, mulai dari informasi lokasi, sejarah, pengalaman berwisata, sampai bagaimana informasi tersebut dikemas agar menarik dan mudah diakses,” kata Gayatri.
Menurut dia, inovasi tersebut diharapkan dapat membantu wisatawan mengenal Merapi secara lebih luas, tidak hanya dari sisi panorama, tetapi juga sejarah serta pentingnya menjaga kelestarian kawasan.
Kreativitas Pemuda Dukung Pelestarian Merapi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, mengapresiasi gagasan peserta yang memadukan informasi, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan wisatawan.
Menurut Kusno, pendekatan tersebut membuka ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan perspektif baru dalam memperkenalkan sekaligus mendukung pelestarian kawasan Merapi.
Melalui kreativitas dan kolaborasi, peserta didorong menghasilkan gagasan yang relevan dengan tantangan kawasan Merapi sekaligus memperkuat pemahaman mengenai nilai sejarah dan ekologisnya.
Forest Youthverse Resilience Summit menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat pengetahuan, kreativitas, dan jejaring kolaborasi dalam mendukung pelestarian ekosistem Merapi.
Kegiatan tersebut juga mendorong peserta memahami keterkaitan antara kelestarian ekosistem, aktivitas masyarakat, pariwisata, dan risiko bencana di kawasan Merapi.***











