Uncategorized

Gejolak Plastik Picu Kenaikan Harga Beras Gula

Avatar
×

Gejolak Plastik Picu Kenaikan Harga Beras Gula

Sebarkan artikel ini
Harga Bahan Pokok di Lambaro Stabil, Pasokan Masih Terkendala Bencana. (Ist)

Byklik.com | Jakarta – Gangguan pasokan bahan baku plastik akibat gejolak geopolitik mulai menekan sektor pangan strategis. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap, pelaku usaha beras dan gula terdampak langsung karena ketergantungan pada kemasan karungan berbahan plastik.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut lonjakan harga plastik dipicu terganggunya pasokan biji plastik yang berasal dari industri turunan minyak bumi, terutama dari kawasan Timur Tengah.

“Begitu ada isu kekurangan pasok plastik, kami langsung menghitung dampaknya. Di beras sekitar Rp350 per kilogram dan gula Rp150 per kilogram. Ini kecil, tapi berdampak nyata,” ujar Ketut, Jumat, 17 April 2026.

Menurutnya, tekanan biaya tersebut sudah dirasakan pelaku usaha dan berpotensi mendorong penyesuaian harga di tingkat konsumen jika tidak segera dikendalikan. Meski demikian, Bapanas memastikan fluktuasi harga beras dan gula dalam sebulan terakhir masih relatif terkendali dan belum menembus ambang kenaikan signifikan.

Baca Juga  DPR Ingatkan Bahaya Deepfake, AI Hanya Alat Bantu Jurnalis

Data per 16 April menunjukkan harga beras medium secara nasional masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan kenaikan tipis di tiap zona, sementara harga gula mengalami fluktuasi terbatas, bahkan menurun di wilayah Indonesia Timur.

Namun, Bapanas mengingatkan potensi tekanan lanjutan tetap terbuka jika pasokan plastik tidak segera distabilkan. Pemerintah pun bersiap melakukan koordinasi lintas kementerian untuk mengamankan suplai.

“Kami akan rapat besar dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan untuk memastikan sumber pasokan plastik tetap aman. Kalau tidak dijaga, harga bisa terkoreksi naik,” tegas Ketut.

Baca Juga  Aparat dan Warga Aneuk Laot Kompak Bersihkan Jalan

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian menyatakan stok plastik dalam negeri sejatinya masih aman. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pihaknya telah mengumpulkan pelaku industri hulu hingga hilir guna memastikan kesinambungan suplai.

“Industri menjamin stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Tapi pemerintah tetap memantau ketat situasi global,” kata Agus.

Gejolak di jalur strategis Selat Hormuz turut memperparah situasi dengan meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu pengiriman bahan baku dari 15 hari menjadi hingga 50 hari. Kondisi ini memperbesar beban biaya produksi yang akhirnya merembet ke sektor pangan.

Pemerintah kini berpacu menahan dampak berantai agar lonjakan harga kemasan tidak berubah menjadi tekanan baru bagi harga beras dan gula di pasar.