Byklik.com | Banda Aceh – Di antara ratusan jamaah calon haji asal Aceh tahun ini, sosok Muhammad Alfaruq Addawami mencuri perhatian. Remaja berusia 16 tahun itu tercatat sebagai jamaah haji termuda dari Provinsi Aceh pada musim haji 2026.
Berasal dari Kabupaten Bener Meriah, tepatnya Desa Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Alfaruq berangkat ke Tanah Suci bukan semata karena panggilan ibadah yang telah lama ia nantikan. Keberangkatannya ke Arab Saudi kali ini menjadi sangat bermakna. Ia menggantikan almarhum ayahnya yang wafat pada 2021, sekaligus mendampingi sang ibu, Nurhayati, yang akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah penantian panjang selama 14 tahun.
“Saya berdoa, semoga amal ibadah kami diterima, umur saya dikuatkan, dan semoga semua ini sesuai dengan yang Allah kehendaki,” ungkap Alfaruq dengan suara pelan namun penuh keyakinan.
Di usianya yang masih belia, perjalanan hidup Alfaruq tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan agama. Saat ini, ia tercatat sebagai santri di Dayah Darul Khairat, Bireuen, tempat ia menimba ilmu agama sembari mempersiapkan diri untuk masa depan yang ia impikan.
“Saya bercita-cita ingin menjadi seorang ulama,” ujarnya singkat namun tegas.
Kehidupan remaja yang masih seharusnya diwarnai dengan sekolah dan permainan, justru ia jalani dengan tanggung jawab besar sebagai pendamping ibadah haji bagi sang ibu. Bahkan sejak memasuki asrama haji, Alfaruq tampak tenang mengenakan seragam, kartu identitas di leher, serta membawa koper bersama jamaah lainnya.
Bagi sang ibu, Nurhayati, perjalanan ini bukan hanya tentang ibadah yang telah lama dinantikan, tetapi juga tentang kehilangan, kesabaran, dan anugerah yang datang di waktu yang tak disangka.
Ia menceritakan bahwa keberangkatan haji ini merupakan hasil penantian sejak mendaftar pada 2012. Rencana keberangkatan yang sempat tertunda akibat pandemi COVID-19 akhirnya terwujud tahun ini.
“Alhamdulillah, setelah penantian 14 tahun, akhirnya kami bisa berangkat. Ini sangat kami syukuri,” ujar Nurhayati.
Meski harus berangkat tanpa sang suami, Nurhayati merasa perjalanan ini tetap lengkap karena ditemani putra bungsunya. Ia bahkan menyebut telah lebih dulu berdiskusi dengan empat anak-anaknya terkait siapa yang akan mendampingi keberangkatan haji tahun ini.
“Saya punya anak 4. Jadi sebelumnya saya udah tanya ke kakak-kakaknya, apakah ikhlas kalau adiknya berangkat. Mereka bilang ikhlas, jadilah saya bawa dia yang menggantikan almarhum.” katanya.
Ia berharap sang anak bisa menjadi pemimpin yang baik sepulang beribadah haji.
“Dia bisa menjadi anak saleh, bermanfaat, dan setelah haji nanti semakin kuat imannya, lebih bersyukur, dan bisa jadi pemimpin yang baik karena dia juga anak lelaki satu-satunya,” ucapnya haru.
Sementara itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Aceh mengimbau para jemaah asal Aceh di Arab Saudi untuk menjaga kondisi kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem yang mencapai 45 hingga 48 derajat Celsius menjelang puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Ketua PPIH Aceh, Arijal, memastikan secara umum kondisi jemaah haji Aceh dalam keadaan baik dan sehat. Ia menyebutkan seluruh jemaah masih dapat menjalankan rangkaian ibadah sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Situasi jemaah kita di Arab Saudi insya Allah semuanya masih sehat-sehat saja,” ujar Arijal di Banda Aceh, Rabu, 20 Meii 2026.
Dalam dua hari terakhir sempat terdapat empat jemaah yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, seluruhnya kini telah kembali bergabung dengan kloter masing-masing dan kembali melanjutkan ibadah seperti biasa.
Di tengah meningkatnya suhu dan padatnya aktivitas ibadah, PPIH Aceh mengingatkan jemaah agar memperhatikan asupan cairan dengan cara minum air secara berkala untuk mencegah dehidrasi.[]











