Byklik.com | Banda Aceh – Banda Aceh Colossal Coffee Experience 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga hari di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Hingga hari terakhir, festival kopi tersebut tercatat telah dikunjungi sekitar 25 ribu orang.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan tingginya jumlah pengunjung menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan yang mengangkat kopi, budaya, dan pelaku usaha lokal.
“Sore tadi saya update berapa jumlah pengunjung selama berjalan sampai dengan siang tadi. Alhamdulillah, pengunjung sudah mencapai 25 ribu pengunjung,” kata Illiza saat penutupan Banda Aceh Colossal Coffee Experience, Minggu, 20 September 2026 malam.
Menurut Illiza, festival tersebut tidak hanya menjadi tempat masyarakat menikmati beragam sajian kopi. Selama tiga hari, pengunjung juga diperkenalkan dengan budaya, tradisi, serta berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ketika kita melaksanakan satu event, multiplier effect itu akan terjadi di kota ini. Bagaimana abang ojek, para pelaku usaha transportasi, para UMKM kita, para influencer, konten kreator, pekerja, pengamanan, semuanya terlibat di event ini,” ujarnya.
Selain dampak ekonomi, Illiza menyoroti potensi kopi Aceh sebagai daya tarik wisata. Menurutnya, pengalaman menikmati kopi perlu dikembangkan tidak hanya dari cita rasa, tetapi juga melalui cerita mengenai sejarah, jenis kopi, proses pengolahan hingga cara penyajiannya.
Ia mendorong warung kopi, kafe, dan restoran di Banda Aceh untuk memperkuat literasi kopi kepada pengunjung. Hal tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman berbeda, terutama bagi wisatawan yang datang ke Banda Aceh.
“Orang yang masuk ke kafe itu mendapatkan cerita tentang kopi, sejarah tentang kopi, peracikan kopi, jenis kopi dan sebagainya. Sehingga ini akan bisa mendatangkan wisatawan yang lebih ramai lagi ke kota kita,” katanya.
Illiza menyebut Aceh memiliki beragam kopi dengan karakteristik masing-masing. Arabika Gayo, misalnya, telah dikenal hingga mancanegara, sementara kopi robusta berkembang di sejumlah wilayah barat dan selatan Aceh.
Di balik setiap produk kopi tersebut, kata Illiza, terdapat peran petani, pengolah kopi hingga barista yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan industri kopi Aceh.
Karena itu, ia berharap penyelenggaraan festival tahun berikutnya tidak hanya menonjolkan kemampuan barista, tetapi juga kreativitas dalam penyajian, tampilan, serta kemampuan pelaku kopi dalam menceritakan produk kepada pengunjung.
“Jadi kita punya kopi, kalau literasi kita kurang, daya tariknya menjadi kurang. Pengusahanya, penyajinya, ini perlu dipikir dan di-create. Tahun depan tidak hanya dinilai bagaimana mereka menjadi barista, tapi dari penampilan yang terbaik pun harus dinilai,” ujarnya.
Illiza berharap festival tersebut dapat kembali digelar dengan skala yang lebih besar, menyediakan ruang bagi lebih banyak tenant, serta berkembang menjadi kegiatan berskala internasional.
“Insyaallah tahun depan akan kita laksanakan lebih baik dan lebih besar lagi,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Illiza mengajak masyarakat ikut mempromosikan kopi Aceh, produk UMKM, serta berbagai kegiatan di Banda Aceh melalui media sosial.
Ia berharap promosi tersebut dapat memperluas jangkauan produk lokal sekaligus menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Banda Aceh.











