Byklik | Banda Aceh – Balai Bahasa Provinsi Aceh secara resmi mengumumkan pemenang Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan literasi anak berbasis penutur jati, dengan mengusung konsep dwibahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah di Aceh.
Sayembara ini terbuka bagi penulis umum dan komunitas literasi, dengan fokus pada penciptaan cerita anak yang mengangkat nilai edukasi, budaya lokal, serta kearifan tradisional Aceh. Selain itu, karya yang dilombakan diharapkan mampu menjadi bahan bacaan berkualitas bagi anak-anak sekaligus mendukung pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi.
Dari hasil seleksi dan kurasi dewan juri, sebanyak 29 naskah terbaik berhasil ditetapkan sebagai pemenang. Menariknya, enam karya di antaranya berasal dari anggota Forum Lingkar Pena Aceh, menunjukkan peran aktif komunitas literasi dalam mendukung program pemerintah.
Adapun karya-karya terpilih tersebut mengangkat tema kearifan lokal yang beragam, mulai dari kuliner tradisional, alat pertanian, hingga legenda dan potensi wisata daerah. Berikut daftar penulis dan judul naskah yang dinyatakan lolos: Rahmat Aulia (Belajar Bersama Jeungki); Ferhat Muchtar (Ayam Tangkap Suka Sembunyi); Ibnu Syahri Ramadhan (Kemana Perginya Keleng?); Riza Rahmi (Pantai Keramat); Eramayawati (Suren dan Krueng Peusangan); serta Rahmawati (Makan Durian)
Ketua FLP Aceh, Rahmat Aulia, menyampaikan apresiasi atas capaian para anggota yang berhasil menorehkan prestasi dalam sayembara tersebut.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga atas terpilihnya karya-karya terbaik dari anggota FLP Aceh dalam sayembara yang digelar Balai Bahasa Aceh tahun ini. Ini membuktikan bahwa proses kreatif yang selama ini dijalankan di komunitas membuahkan hasil nyata,” ujarnya, Rabu, 22 April 2026.
Ia menambahkan, karya-karya tersebut diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pemenang, tetapi juga dapat menjadi bacaan yang bermanfaat bagi anak-anak Aceh untuk mengenal identitas dan budaya daerahnya sejak dini.
Lebih lanjut, Rahmat menegaskan bahwa FLP Aceh akan terus mendorong anggotanya untuk menghasilkan karya yang sarat nilai edukasi dan moral, sejalan dengan visi komunitas sebagai wadah kepenulisan yang mencerahkan.
Pihak Balai Bahasa Aceh akan menerbitkan naskah-naskah tersebut sebagai buku cerita anak dwibahasa. Penerbitan ini diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan literasi sekaligus memperkuat penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.











