Berita UtamaHeadline

DPR Desak Percepatan Rehabilitasi Sawah Terdampak Banjir

Avatar
×

DPR Desak Percepatan Rehabilitasi Sawah Terdampak Banjir

Sebarkan artikel ini
Mentan Andi Amran Sulaiman bersama Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Hariyadi atau Titek Soeharto, pada acara groundbreaking Rehabilitasi Lahan Sawah Terdampak Bencana serta Penyaluran Bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Peduli Bencana di Gampong Pinto Makmur, Kec. Muara Batu, Kab. Aceh Utara, Kamis, 15 Januari 2026. [Foto: Humas Kementan]

Byklik.com | Jakarta – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mendesak pemerintah segera mempercepat rehabilitasi lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Desakan itu disampaikan menyusul lambatnya progres rehabilitasi yang dinilai berpotensi memperparah kondisi petani, terutama yang terancam gagal panen.

“Keterlambatan dan ketidakcermatan dalam mendiagnosa dampak banjir akan menyebabkan petani makin menderita. Selain gagal panen yang sudah di depan mata, juga akan membuat petani kita tak bisa menggarap sawahnya kembali dalam waktu cepat,” ujar Alex, Selasa, 7 April 2026.

Baca Juga  Aceh Terima Bantuan Pendidikan Lebih Besar

Ia mengungkapkan, berdasarkan data per 28 Maret 2026, capaian rehabilitasi oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera masih sangat rendah. Dari total target 42.702 hektare, baru 991 hektare atau sekitar 2,32 persen yang terealisasi.

Secara rinci, di Aceh rehabilitasi baru mencapai 42 hektare dari target 31.464 hektare. Sementara di Sumatera Utara terealisasi 170 hektare dari target 7.336 hektare, dan di Sumatera Barat sebesar 779 hektare dari target 3.902 hektare.

“Kita mendesak pemerintah untuk segera melakukan upaya percepatan dalam rehabilitasi sawah ini. Perbaikan sawah terdampak banjir harus menjadi prioritas yang dituntaskan dalam waktu cepat,” tegasnya.

Baca Juga  KRI RJW Antar Bantuan, Bangkitkan Harapan Warga Aceh

Menurut Alex, lambatnya pemulihan tidak hanya berdampak pada hilangnya hasil panen, tetapi juga menggerus modal produksi, waktu kerja petani, serta kepastian musim tanam berikutnya.

Ia menekankan, penanganan tidak boleh berhenti pada pendataan lahan terdampak, melainkan harus dilanjutkan dengan langkah pemulihan menyeluruh.

“Harus mencakup distribusi benih, sarana produksi, hingga optimalisasi perlindungan asuransi pertanian. Tanpa skema pemulihan yang cepat, gangguan produksi akan berubah menjadi tekanan harga yang dirasakan masyarakat luas,” pungkasnya.