Berita Utama

BMKG Pastikan Dentuman di Bandung Bukan Akibat Gempa

Avatar
×

BMKG Pastikan Dentuman di Bandung Bukan Akibat Gempa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. [Foto: Pixabay]

Byklik.com | Bandung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan suara dentuman yang terdengar berulang di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu, 5 September 2026 dini hari, bukan disebabkan oleh aktivitas gempa bumi maupun fenomena cuaca lokal.

Kepastian tersebut disampaikan BMKG melalui Stasiun Geofisika Bandung setelah melakukan evaluasi terhadap data pemantauan kegempaan, aktivitas petir, kondisi atmosfer, hingga magnet bumi.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan BMKG menerima laporan masyarakat mengenai suara dentuman yang terdengar berulang sejak sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.

Hasil analisis data kegempaan menunjukkan tidak terdapat aktivitas seismik di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya selama periode tersebut. Dengan demikian, gempa bumi dipastikan bukan pemicu suara dentuman.

“Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat. Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan,” kata Suaidi dalam konferensi pers daring, Sabtu (5/9).

Baca Juga  Aceh Tengah Ekspor 19,2 Ton Kopi Gayo ke Inggris

Selain aktivitas kegempaan dan petir, BMKG juga menganalisis kondisi cuaca ketika dentuman terdengar. Saat itu, kondisi cuaca secara umum terpantau cerah dengan angin bertiup konsisten dari arah timur ke barat.

Kondisi tersebut menunjukkan tidak adanya fenomena cuaca ekstrem lokal yang dapat menjadi pemicu suara dentuman. BMKG juga menganalisis kemungkinan suara tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Aktivitas erupsi GAK memang terdeteksi melalui citra satelit, disertai peningkatan aktivitas petir di sekitar gunung tersebut. Namun, BMKG menilai kecil kemungkinan suara erupsi merambat hingga Bandung Raya.

Arah angin dari timur ke barat saat kejadian juga memperkecil kemungkinan gelombang suara dari kawasan Gunung Anak Krakatau merambat menuju Bandung. Karena itu, sumber dentuman hingga kini masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Baca Juga  Gempa M 5,7 Guncang Sinabang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Dalam pemantauan lanjutan, BMKG menemukan sejumlah anomali yang masih menjadi bahan analisis. Instrumen di Pulau Sebesi merekam anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB.

Selain itu, stasiun magnet bumi di Sukabumi dan Serang mencatat gangguan magnetik internal bumi pada 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB. Namun, pada periode tersebut tidak ditemukan aktivitas badai matahari.

“Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut,” ujar Suaidi.

BMKG masih melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas kegempaan, petir, magnet bumi, dan atmosfer untuk mengungkap sumber suara dentuman tersebut. Koordinasi dengan sejumlah instansi terkait juga terus diperkuat.

BMKG mengimbau masyarakat Bandung Raya tetap tenang dan tidak terpengaruh isu spekulatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG.