Ekonomi & Bisnis

BI Dorong Ekonomi Syariah Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Bambang Iskandar Martin
×

BI Dorong Ekonomi Syariah Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Sebarkan artikel ini
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro membuka Seminar Nasional “Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan” yang berlangsung di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026. (Foto: Departemen Komunikasi BI)

Byklik.com | Jakarta – Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah untuk mengoptimalkan potensi sektor tersebut sebagai sumber pertumbuhan baru. Langkah itu diarahkan pada penguatan sektor riil, pembiayaan, serta literasi dan inklusi keuangan.

Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro mengatakan potensi ekonomi syariah Indonesia cukup besar, didukung populasi Muslim yang besar, penduduk usia muda, serta perkembangan industri halal.

“Ekonomi syariah adalah tentang bagaimana nilai-nilai syariah diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif, inklusif, berkeadilan, dan pada akhirnya mampu membangun kemandirian,” ujar Solikin saat membuka Seminar Nasional “Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan” di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurut Solikin, Indonesia berada di peringkat keempat dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report, dengan daya saing pada sektor modest fashion, pariwisata, dan makanan halal.

Di dalam negeri, rantai nilai halal pada 2025 tumbuh 6,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan berkontribusi sekitar 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), berdasarkan data yang disampaikan BI.

Solikin menilai potensi tersebut perlu dioptimalkan agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan. Pada sektor riil, pelaku usaha Indonesia didorong tidak hanya menjadi konsumen pasar halal, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat rantai pasok, dan memperluas pasar global.

Baca Juga  Bareskrim dan BI Musnahkan Ratusan Ribu Lembar Uang Palsu

Dari sisi pembiayaan, industri keuangan syariah dinilai perlu terus diperkuat agar mampu mendukung transformasi sektor riil. Sementara peningkatan literasi perlu diikuti perluasan inklusi keuangan agar pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah dapat mendorong penggunaan produk dan layanan keuangan syariah.

Dalam pengembangan ekosistem tersebut, BI menjalankan peran sebagai Akselerator, Inisiator, dan Regulator (AIR). Peran itu diarahkan untuk memperkuat sinergi berbagai pemangku kepentingan.

“Seperti air, sebuah ekosistem hanya akan hidup kalau ia mengalir dan saling terhubung,” kata Solikin.

Seminar tersebut juga menghadirkan Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Dadang Muljawan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Cholil Nafis, ekonom syariah Adiwarman Azwar Karim, dan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar.

Dalam diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya kolaborasi untuk memperkuat industri halal, pembiayaan, digitalisasi UMKM, serta perluasan akses pasar. Penguatan aspek tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing industri halal Indonesia.

Baca Juga  Cadangan Devisa Juni 2025 Meningkat

BI juga mendorong pengembangan sektor produksi, termasuk usaha pesantren, untuk membangun rantai nilai halal yang terintegrasi. Di sektor keuangan, BI mendukung pengembangan perbankan syariah melalui instrumen moneter dan kebijakan makroprudensial guna mendorong pembiayaan sektor ekonomi prioritas.

Selain itu, BI mengembangkan instrumen likuiditas untuk mendukung efisiensi operasional dan ketahanan perbankan syariah. Keterhubungan antara penghimpunan dana syariah dengan layanan perbankan, penjaminan, dan asuransi syariah juga didorong untuk memperkuat ekosistem keuangan syariah.

Optimalisasi zakat dan wakaf turut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

BI menyatakan akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan baru yang mendukung kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Informasi mengenai ISEF 2026 dapat diperoleh melalui laman resmi ISEF dan kanal resmi Bank Indonesia.***