Byklik.com | Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus tetap berpijak pada nilai etika serta tidak menggeser keunggulan berpikir manusia.
Menurutnya, kemampuan manusia dalam membuat abstraksi dan memahami konsep dari data terbatas merupakan keunggulan utama yang tidak dimiliki AI secara utuh.
“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data adalah sesuatu yang tidak boleh hilang. Ini adalah keunggulan kita dibandingkan AI,” ujarnya, Kamis, 23 April 2026.
Ia menekankan, sistem pendidikan memegang peran strategis dalam menjaga kemampuan berpikir kritis dan konseptual, bukan sekadar mengejar keterampilan teknis semata.
“Teknologi, termasuk AI, lahir dari pemikiran kritis dan riset fundamental. Ini yang harus terus dijaga dalam pendidikan kita,” katanya.
Stella juga mengingatkan bahwa AI memiliki dua sisi yang perlu diantisipasi secara seimbang, yakni potensi risiko dan manfaat.
Di satu sisi, AI berpotensi menimbulkan ancaman seperti keamanan siber dan penyebaran informasi tidak akurat. Namun di sisi lain, teknologi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai alat verifikasi serta memperluas akses pendidikan secara merata.
“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan AI di Indonesia harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan nasional, sekaligus membantu menyelesaikan persoalan kompleks berbasis data, dengan tetap berpegang pada prinsip etika.











