Berita Utama

Dua Siswi MTsN 1 Banda Aceh Raih Perak OPSI

Bambang Iskandar Martin
×

Dua Siswi MTsN 1 Banda Aceh Raih Perak OPSI

Sebarkan artikel ini
Dua siswi MTsN 1 Model Banda Aceh berhasil meraih medali perak Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 melalui riset berbasis Internet of Things (IoT) yang yang berlangsung secara luring di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 24–30 September 2026. (Foto: Kanwil Kemenag Aceh)

Byklik.com | Banda Aceh – Dua siswi MTsN 1 Model Banda Aceh berhasil mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional setelah meraih medali perak Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 melalui riset berbasis Internet of Things (IoT).

Nafisah Zidaputri dan Aysha Xaviera Al Rescha, siswi kelas IX-2, meraih medali perak pada bidang Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT) jenjang MTs/SMP/sederajat. Prestasi tersebut diumumkan pada Selasa, 29 September 2026.

Keduanya tampil dalam OPSI 2026 yang berlangsung secara luring di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 24–30 September 2026. Kompetisi tersebut diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Nafisah dan Aysha mengusung penelitian bertajuk EduSecure IoT, berupa konsep smart room sekolah berbasis IoT. Sistem tersebut mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah, pemantauan okupansi ruangan, dan pengelolaan penggunaan energi.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, prestasi itu menunjukkan potensi peserta didik madrasah di Aceh dalam bidang akademik, inovasi, dan penelitian.

“Capaian itu sekaligus menjadi bukti bahwa siswa madrasah di Aceh memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan akademik, inovasi, dan penelitian yang mampu bersaing secara nasional,” kata Azhari saat pelepasan Kontingen PPSN VI ke Malang.

Baca Juga  PP Tunas Berlaku, DPR: Tak Ada Toleransi Ancaman Digital Anak

Ia berharap prestasi tersebut dapat mendorong peserta didik madrasah lainnya untuk lebih aktif melakukan penelitian dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat.

“Kita juga berharap capaian ini menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berani meneliti, berinovasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Bagi Kemenag dan madrasah, capaian tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya riset dan inovasi di kalangan peserta didik,” ujarnya.

Kepala MTsN 1 Banda Aceh, Dr. Hj. Ummiyani, mengatakan tim madrasah berhasil menembus tahap final setelah bersaing dengan 820 tim yang mengunggah laporan akhir penelitian.

“Prestasi yang diraih Nafisah dan Aysha menjadi pencapaian penting bagi madrasah, terlebih karena keduanya mampu meraih posisi kedua nasional di tengah ketatnya persaingan dalam ajang penelitian ilmiah tingkat pelajar tersebut,” ujar Ummiyani.

Ia menjelaskan, EduSecure IoT dikembangkan untuk mengidentifikasi pengguna ruangan dan memantau jumlah orang yang berada di dalamnya. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan penggunaan listrik secara lebih efisien.

Baca Juga  Bupati Tagore Pastikan MPLS Ramah Anak

“Penelitian EduSecure IoT mengembangkan konsep smart room sekolah berbasis Internet of Things (IoT) yang mengintegrasikan sejumlah teknologi, di antaranya pengenalan wajah, pemantauan okupansi ruangan, serta efisiensi penggunaan energi,” katanya.

Pengembangan EduSecure IoT menjadi bagian dari upaya peserta didik MTsN 1 Banda Aceh memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekolah. Selain aspek keamanan melalui identifikasi pengguna, sistem tersebut dirancang untuk mendukung pengelolaan energi berdasarkan kondisi penggunaan ruangan.

Tim MTsN 1 Banda Aceh mengikuti kompetisi tersebut bersama dua guru pembimbing, Nurmahni Harahap dan Rizka Anggia Dinda. Ummiyani menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil proses penelitian siswa bersama guru pembimbing serta dukungan madrasah.

“Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat minat peserta didik madrasah untuk mengembangkan penelitian berbasis sains dan teknologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ummiyani.

Ia menambahkan, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama siswa, guru pembimbing, keluarga besar madrasah, serta dukungan Kementerian Agama.

“Keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras siswa, guru pembimbing, serta dukungan seluruh keluarga besar madrasah, juga tentunya Kemenag,” pungkasnya.***