Oleh Ayi Jufridar
KETIKA menguji seorang calon wartawan, Sjamsul Kahar yang tatkala itu masih menjabat sebagai pemimpin redaksi Serambi Indonesia, meminta seorang peserta menuliskan seuah berita lempang. Ia menuturkan sebuah kecelakaan fiktif di jalan menuju Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Sang calon wartawan dengan tekun menulis setiap detail yang keluar dari mulut Sjamsul Kahar. Tidak ada fakta yang terlupa.
Setelah selesai, Sjamsul menilai hasil kerja calon wartawan tersebut dan menuliskan catatan di dalamnya bahwa unsur berita tidak lengkap karena tanpa penjelasan kapan (when) peristiwa itu terjadi. Calon wartawan itu beralasan memang dalam penuturan Pak Pemred, tidak ada penyebutan unsur waktu sehingga ia tidak berani berimprovisasi dengan menambah dan mengurangi “fakta” yang didengarnya.
“Tugas Anda sebagai wartawan itu bertanya kalau ada yang belum jelas!” tegas Atok.
Entah Sjamsul Kahar betul-betul lupa menyebutkan unsur waktu dan kemudian berkilah dengan jeli atau hanya ingin menguji kekritisan calon wartawan, hanya Allah dan Sjamsul sendiri yang tahu. Namun, kejadian itu mengingatkan siapa pun yang ingin membangun karier sebagai jurnalis tentang pentingnya kelengkapan fakta. Dalam buku klasik jurnalistik, Liberty and the News (1920), Walter Lippmann menekankan pentingnya wartawan membangun gambaran tentang realitas berdasarkan fakta yang dapat diperiksa, bukan sekadar kesan atau prasangka.
***
Ujian penulisan berita tersebut saya alami tatkala mengikuti seleksi menjadi wartawan Serambi pada 1997. Atok—panggilan wartawan dan karyawan Serambi untuk Sjamsul Kahar—tidak hanya menguji tentang kemampuan menulis berita, tetapi juga pengetahun umum, karakteristik, dan ketangguhan calon wartawan menghadapi medan berat dalam liputan. Dalam setiap tahapan ujian tersebut, Sjamsul lebih berperan sebagai orang tua—alih-alih sebagai pimpinan redaksi.
Makanya, ketika mendapatkan kabar meninggalnya Sjamsul Kahar pada 24 September 2026 pukul 02.00 di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh, banyak yang terkejut sekaligus merasa kehilangan. Innalillawaiinailaihirajiun. Aceh kehilangan tokoh pers yang telah menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan pers di Aceh bahkan nasional.
Sepanjang hidupnya, Sjamsul Kahar (9 Oktober 1945 – 24 September 2026) dikenal sebagai jurnalis sekaligus pendiri harian Serambi Indonesia, sejak 9 Februari 1989. Selain pendiri, ia juga lama menjabat sebagai pemimpin redaksi, selain menjadi wartawan Kompas untuk Aceh.
Sebagai jurnalis Serambi yang ditempatkan di Kota Lhokseumawe, sejak 1997 – 2023, saya jarang bertemu Atok. Pertemuan hanya terjadi kalau ada undangan rapat redaksi tahunan di Banda Aceh atau beliau ada kunjungan ke daerah.
Suatu hari, ia berkunjung ke Biro Lhokseumawe dengan beberapa wartawan senior. Dalam perjalanan, Atok melihat kecelakaan truk di lintasan Seulawah. Ia menulis sebuah deskripsi yang lumayan panjang dan rinci dari sebuah foto kecelakaan tersebut. Saya melihatnya bekerja dan setelah menyelesaikan semuanya, ia mengedit sendiri teks foto tersebut meski nanti dilihat lagi oleh editor. Seorang jurnalis atau penulis, memang harusnya menjadi editor pertama bagi dirinya sendiri.
Selain pengalaman seleksi menjadi wartawan Serambi, tragedi penembakan di Simpang KKA pada 3 Mei 1999 juga menjadi pengalaman tak terlupakan, baik kasus itu sendiri maupun perhatian Atok kepada saya yang waktu itu belum genap dua tahun menjadi jurnalis.
Saya bersama Muharram M Noor—editor halaman Lhokseumawe—gagal mencapai Simpang KKA karena jalanan sudah diblokade. Saya hanya sampai Krueng Geukueh dan kemudian ke rumah sakit PT Arun di Batuphat karena banyak korban di sana. Saya syok melihat para korban yang dijejer di sebuah ruangan.
Emosi saya meledak ketika melihat seorang anak dibawa ke ruangan itu dengan otak terburai. Di lantai sudah banjir darah. Baju para korban sudah berubah warna menjadi merah. Saya down dan menangis. Pemandangan di balik kaca itu sungguh mengguncang jiwa.
Malamnya, Atok menelepon saya ke nomor kantor (saat itu belum punya handphone). Saya mengeluh ke beliau sambil menahan tangis. Atok membesarkan hati saya, “Kita semua juga tertekan. Kita terjepit untuk menyuarakan kebenaran. Tapi kita harus tetap meliput,” ujar Atok seraya mengingatkan saya selalu berhati-hati dalam tugas.
Saya belum pernah mendapatkan telepon dari Atok sebelumnya. Setelah mendengar nasihat beliau, beban saya berkurang. Kami ke lapangan lagi, meliput kembali, dan menjadi saksi lembar-lembar kelam dari konfik Aceh yang membuat kita tak ingin kembali ke masa itu sampai kapanpun.
Pengalaman lain yang saya ingat adalah ketika adalah sejumlah berita yang layak tayang tetapi tidak muncul di halaman koran. Dalam rapat redaksi di Aula PLN Aceh yang digunakan Serambi, saya bertanya tentang kriteria penayangan sebuah berita. Pertanyaan ini sengaja saya sampaikan sebagai bentuk protes terhadap sejumlah berita yang menurut saya layak tayang, tetapi tidak muncul karena satu atau beberapa sebab di luar dari kaidah jurnalistik. Atok mengecam tindakan serupa itu dalam bahasa Aceh yang keras.
Bagi saya, Atok adalah orang tua sekaligus guru jurnalistik. Dalam banyak pelatihan, saya menyebutkan beliau sebagai guru yang secara langsung memberikan ilmu jurnalistik, selain Pak Basri Daham (abang kandung Atok), Ridwan Ishaq, Muharram M Noor, Hamdani S Rukiah, Bang Yarmen Dinamika, dan masih banyak lagi.
Selamat jalan, Atok. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Ilmu yang berguna yang Atok berikan kepada kami semoga menjadi pahala yang tak pernah putus. Amin.[]
Ayi Jufridar, wartawan Serambi Indonesia 1997 – 2023. Kini anggota Bawaslu Kota Lhokseumawe











