Pendidikan & Karier

Bireuen Rotasi 34 Kepala Sekolah, Mutu Pendidikan Diperkuat

Avatar
×

Bireuen Rotasi 34 Kepala Sekolah, Mutu Pendidikan Diperkuat

Sebarkan artikel ini
Bupati Bireuen, Mukhlis di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bireuen, Senin 14 September 2026. [Foto: MC.Bireuen]

Byklik.com | Bireuen – Pemerintah Kabupaten Bireuen menata kepemimpinan 34 kepala UPTD sekolah tingkat TK, SD, dan SMP melalui rotasi dan penugasan baru untuk memperkuat mutu pendidikan menghadapi perubahan dunia pembelajaran.

Penataan tersebut berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, Senin, 14 September 2026.

Bupati Bireuen, Mukhlis, mengatakan penataan kepala sekolah dilakukan secara objektif dan mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kebijakan itu juga merujuk rekomendasi Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 40939/R-AK.02.03/SD/KR.XIII/2026 dan Nomor 40937/R-AK.02.03/SD/KR.XIII/2026 tertanggal 11 Agustus 2026 tentang Penugasan, Mutasi, dan Pemberhentian Kepala Sekolah.

Baca Juga  FKH USK Jalin Kemitraan Strategis dengan Dua Kampus Tiongkok

“Pertimbangan dari BKN memastikan penataan kepemimpinan sekolah berjalan tertib, objektif, dan akuntabel. Muara akhirnya adalah peningkatan mutu pendidikan di Bireuen,” ujar Mukhlis.

Menurutnya, penataan kepemimpinan sekolah menjadi penting seiring pesatnya perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak.

Karena itu, para kepala sekolah yang mendapat penugasan baru diminta membangun satuan pendidikan yang lebih adaptif, inovatif, dan responsif terhadap tantangan zaman.

Mukhlis menyebut terdapat sejumlah agenda yang harus segera diwujudkan para kepala sekolah. Pertama, meningkatkan kompetensi dan inovasi melalui penguatan kepemimpinan instruksional, peningkatan profesionalisme guru, serta pemanfaatan teknologi secara bijak dalam pembelajaran.

Baca Juga  Fun Trabas Jaya Sakti Adventure 2026 Meriah di Bireuen

Kedua, menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak dengan memastikan proses belajar berlangsung aman, nyaman, dan inklusif serta bebas dari perundungan, kekerasan, dan diskriminasi.

Ketiga, memperkuat pendidikan karakter dan membangun kolaborasi antara sekolah, orang tua, komite sekolah, serta pemerintah daerah.

“Kemajuan sekolah tidak bisa dicapai secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja bersama dan komitmen seluruh elemen. Kepercayaan ini harus dijawab dengan kontribusi nyata,” imbuhnya.