Uncategorized

Dinkes Banda Aceh Perkuat Kompetensi Hadapi Kegawatdaruratan Maternal

Avatar
×

Dinkes Banda Aceh Perkuat Kompetensi Hadapi Kegawatdaruratan Maternal

Sebarkan artikel ini
On the Job Training (OJT) Kasus Kegawatdaruratan Ibu dan Anak di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kota Banda Aceh, Kecamatan Meuraxa, Rabu, 9 September 2026. [Foto: Dinkes Kota Banda Aceh]

Byklik.com | Banda Aceh – Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh memperkuat kompetensi tenaga kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Penguatan kapasitas tersebut dilakukan melalui kegiatan On the Job Training (OJT) Kasus Kegawatdaruratan Ibu dan Anak yang digelar di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kota Banda Aceh, Kecamatan Meuraxa.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini, memberikan pertolongan awal, menentukan prioritas penanganan, hingga mengambil keputusan rujukan secara cepat dan tepat sesuai standar pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Wahyudi mengatakan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan pelayanan kesehatan ibu dan anak berjalan optimal.

“Kegawatdaruratan maternal dan neonatal membutuhkan respons yang cepat dan tepat. Karena itu, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama harus memiliki kompetensi yang memadai, sehingga mampu melakukan deteksi dini, memberikan pertolongan awal, serta menentukan langkah rujukan secara tepat apabila kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujar Wahyudi saat membuka kegiatan, seperti dikutip Rabu, 9 September 2026.

Baca Juga  Banda Aceh Tambah CCTV 360 Derajat di Ruang Publik

Menurut Wahyudi, pelaksanaan OJT di rumah sakit rujukan memberikan pengalaman pembelajaran yang penting bagi tenaga kesehatan puskesmas. Peserta dapat melihat sekaligus mempelajari secara langsung penanganan kasus dalam situasi klinis yang nyata.

“Kita berharap kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan secara teori, tetapi benar-benar dapat meningkatkan keterampilan dan kesiapsiagaan petugas ketika menghadapi kasus kegawatdaruratan di lapangan,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan jejaring antara puskesmas dan rumah sakit juga diperlukan agar proses rujukan dapat berlangsung cepat, efektif, dan terintegrasi.

Selama pelaksanaan OJT, peserta memperoleh pembelajaran yang memadukan teori dan praktik klinis terkait berbagai kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Materi yang diberikan antara lain tatalaksana kegawatdaruratan pada kehamilan, persalinan, dan masa nifas; penanganan kegawatdaruratan bayi baru lahir; periode transisi sistem pernapasan dan sirkulasi neonatus; tatalaksana persalinan bersih dan aman; serta alur dan persiapan resusitasi bayi baru lahir.

Untuk mendukung proses pembelajaran, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menghadirkan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta dokter spesialis Anak sebagai narasumber sekaligus pendamping peserta.

Baca Juga  JKA Tak Dihentikan, Pemerintah Aceh Akui Tertekan Fiskal

Direktur RSIA Kota Banda Aceh bersama para dokter spesialis juga memberikan pendampingan secara langsung selama kegiatan berlangsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta tidak hanya mendapatkan penguatan teori, tetapi juga pengalaman praktik klinis berdasarkan kondisi dan kasus yang ditemui di rumah sakit.

Melalui OJT tersebut, tenaga kesehatan diharapkan semakin terampil mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan, menentukan prioritas penanganan, melakukan tindakan awal yang sesuai, serta memahami mekanisme koordinasi dan rujukan secara efektif.

Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh berharap peningkatan kompetensi itu dapat berdampak pada mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak di tingkat FKTP sekaligus memperkuat kesinambungan pelayanan antara puskesmas dan rumah sakit sebagai fasilitas rujukan.

Dengan kompetensi tenaga kesehatan yang semakin baik serta sistem rujukan yang terintegrasi, pelayanan terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir diharapkan menjadi lebih responsif, aman, dan berkualitas.

Upaya tersebut pada akhirnya diharapkan turut berkontribusi dalam menekan angka kesakitan dan kematian maternal maupun neonatal di Kota Banda Aceh.