Byklik.com | Jakarta – Indonesia dan Azerbaijan sepakat mempercepat pembahasan penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama industri sebagai tindak lanjut keikutsertaan Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi perluasan ekspor manufaktur, peningkatan investasi, dan penguatan kemitraan industri di kawasan Eurasia.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral antara Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, dengan Penasihat Menteri Ekonomi Republik Azerbaijan, Mammad Abbasbeyli.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Azerbaijan memiliki posisi strategis sebagai penghubung perdagangan antara Asia dan Eropa sehingga menjadi mitra penting bagi Indonesia.
“INNOPROM 2026 menjadi momentum penting bagi kami untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara strategis, termasuk dengan Azerbaijan. Kami harap pembahasan MoU ini mampu membuka peluang investasi, memacu alih teknologi, dan menciptakan kerja sama yang saling bermanfaat bagi kedua negara,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian telah menyampaikan rancangan MoU kepada Pemerintah Azerbaijan melalui jalur diplomatik. Dokumen tersebut diharapkan menjadi dasar penguatan kerja sama industri yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Duta Besar RI Jose Antonio Morato Tavares menyampaikan Indonesia berharap pembahasan MoU segera dituntaskan sebagai landasan memperkuat kerja sama industri, perdagangan, dan investasi antara kedua negara. Menurutnya, hubungan komunikasi yang telah terjalin baik menjadi modal penting untuk merealisasikan berbagai peluang kerja sama.
Dalam rancangan MoU, Indonesia mengusulkan sejumlah bidang kerja sama, antara lain pertukaran informasi mengenai standar dan regulasi industri, pengembangan rantai pasok, alih teknologi, pengembangan kawasan industri, penyelenggaraan forum bisnis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Pemerintah juga berharap Azerbaijan segera memberikan tanggapan terhadap rancangan tersebut agar proses finalisasi MoU dapat segera diselesaikan dan diimplementasikan.
Indonesia memandang Azerbaijan sebagai mitra strategis karena berkembang sebagai pusat logistik yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui jalur Trans-Caspian International Transport Route (Middle Corridor) dan International North-South Transport Corridor (INSTC). Jalur ini dinilai berpotensi memperluas akses produk manufaktur Indonesia ke kawasan Kaukasus, Asia Tengah, Eropa Timur, hingga negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).
Hubungan perdagangan kedua negara juga menunjukkan tren positif. Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas melalui ekspor minyak sawit, sabun, plastik, tembakau, dan makanan olahan, sementara Azerbaijan memasok minyak mentah ke Indonesia. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD155,2 juta, memperkuat hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak 24 September 1992.
Kementerian Perindustrian berharap finalisasi MoU tersebut menjadi tonggak penguatan kerja sama industri Indonesia dengan kawasan Eurasia sekaligus membuka peluang investasi, memperluas pasar ekspor manufaktur, memperkuat rantai pasok industri, serta mempercepat alih teknologi guna meningkatkan daya saing industri nasional.
INNOPROM 2026 yang diikuti hampir 900 peserta dari lebih 50 negara juga diharapkan menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperluas jejaring kemitraan industri dan menghasilkan kolaborasi teknologi dengan berbagai negara, termasuk Azerbaijan.











