Byklik.com | Washington – Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan kembali menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dalam pertemuan tingkat tinggi para menteri luar negeri di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki. Ketiga negara juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya aktivitas yang dinilai mengganggu stabilitas di sekitar Taiwan.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026, mempertemukan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Jepang Motegi Toshimitsu, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun. Pembahasan difokuskan pada penguatan kerja sama trilateral guna mendukung kepentingan ekonomi bersama serta menjaga keamanan dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Dalam siaran pers yang dirilis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu, 8 Juli 2026, ketiga diplomat juga membahas pentingnya kerja sama antara NATO dan negara-negara mitra di Indo-Pasifik dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan global.
Agenda pembahasan meliputi percepatan belanja dan produksi pertahanan, penanggulangan ancaman siber dan hibrida, serta pertukaran informasi mengenai perkembangan situasi keamanan di kawasan Euro-Atlantik maupun Indo-Pasifik.
Terkait Taiwan, ketiga menteri menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya tindakan yang dinilai bersifat destabilisasi di sekitar pulau tersebut.
Mereka juga menyerukan penyelesaian secara damai terhadap isu lintas selat dan menolak segala upaya mengubah status quo secara sepihak, terutama melalui penggunaan kekuatan atau paksaan.
Pernyataan bersama itu disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap aktivitas militer China di sekitar Taiwan dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden Taiwan Lai Ching-te sebelumnya menuding Beijing terus meningkatkan tekanan melalui berbagai aktivitas di kawasan yang dikenal sebagai taktik “zona abu-abu”, termasuk operasi maritim di Laut China Timur, Laut China Selatan, dan Selat Taiwan. Menurut Lai, aktivitas tersebut merupakan bentuk pemaksaan yang meningkatkan ketegangan dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Indo-Pasifik.











