Hiburan & Budaya

Tiga Sekolah Lolos Seleksi Pitching Aceh Documentary Competition 2026

×

Tiga Sekolah Lolos Seleksi Pitching Aceh Documentary Competition 2026

Sebarkan artikel ini
Kegiatan basic training ADC 2026.

Byklik | Banda AcehYayasan Aceh Dokumenter secara resmi menetapkan tiga sekolah yang berhasil lolos ke tahap produksi dalam rangkaian Aceh Documentary Competition (ADC) 2026. Keputusan ini diambil setelah melalui tahapan pitching ide film dokumenter yang berlangsung secara daring pada Kamis, 18 Juni 2026.

Tiga tim yang terpilih tersebut adalah SMAN 2 Pulo Aceh dengan siswa Sri Fitriani yang dengan guru pendamping Hasrati, SMKN 1 Pante Bidari dengan siswa Kafka Nafisa dan guru pendamping Murniati, serta MAN Kota Lhokseumawe dengan siswa Mustaqim Akbar dan guru pendamping Eny Sahara.

Manajer Aceh Documentary Competition 2026, TM Hafidz Maulana, menjelaskan bahwa pemilihan ini didasarkan pada koherensi antara premis, karakter, akses terhadap dunia cerita, dan potensi pengembangannya ke dalam bentuk sinema dokumenter.

“Proposal yang lolos menunjukkan peluang lebih besar untuk membangun struktur naratif yang jelas, didukung kondisi produksi yang memungkinkan observasi langsung, serta memiliki potensi realitas yang kuat terhadap subjek dan lingkungannya,” ujar Hafidz, Senin, 22 Juni 2026.

Ia menambahkan, proyek-proyek terpilih ini juga menawarkan fleksibilitas dalam pemilihan pendekatan, gaya, dan strategi estetika yang konkret.

Hafidz merinci kekuatan unik dari masing-masing proposal yang terpilih. SMAN 2 Pulo Aceh, menonjol dari sisi kedalaman riset dan daya humanis melalui sudut pandang anak, serta didukung potensi visual lanskap pesisir yang khas untuk mewakili persoalan daerah 3T.

Sementara, SMKN 1 Pante Bidari unggul dari sisi aktualisasi dan relevansi sosial, terutama terkait dampak bencana yang berlapis terhadap kerentanan anak, sehingga berpotensi kuat sebagai sarana refleksi publik. MAN Kota Lhokseumawe menawarkan keunggulan praktis berupa kemudahan akses produksi dengan ide kritik sosial seputar penggunaan bahasa Aceh sebagai ungkapan ekspresi negatif, yang berpotensi menjadi dokumenter komedi sarat pesan.

Sementara itu, bagi proposal yang belum lolos, Hafidz menegaskan bahwa ide-ide tersebut masih memiliki kemungkinan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan proses pengolahan lanjutan agar setiap unsur dapat terhubung sebagai gerak yang lebih terpadu dalam kerangka dokumenter.

Baca Juga  Pengukuhan Pengurus PAW Majelis Adat Aceh Periode 2021–2026

“Proses seleksi dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas Muhajir, Muhammad Hendri, dan Ihan Nurdin dengan penilaian yang mencakup kekuatan riset, relevansi isu, dan kelayakan produksi,” kata Hafidz.

Tema Rentan

Lebih lanjut Hafidz mengatakan, untuk tahun 2026 panitia memilih Rentan sebagai tema ADC 2026. Rentan adalah kondisi ketika manusia, lingkungan, dan ruang hidup berada dalam posisi yang mudah terguncang dan kehilangan daya bertahan. Ia tidak selalu hadir sebagai peristiwa besar yang datang tiba-tiba, tetapi tumbuh perlahan melalui pembiaran, ketimpangan, dan sistem yang menekan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks inilah tema RENTAN dipahami sebagai fase sebelum kehancuran, kondisi yang masih bisa disadari, dipahami, dan direkam sebelum semuanya benar-benar runtuh.

Kerentanan sering kali tidak disadari karena hadir dalam bentuk yang akrab dengan keseharian. Banjir yang berulang, pendidikan yang kehilangan ruang untuk membebaskan, ekonomi kecil yang terus terdesak, serta budaya yang perlahan tersisih kerap dianggap sebagai keadaan normal. Padahal, normalisasi atas kondisi-kondisi tersebut justru menunjukkan melemahnya daya tahan masyarakat dan lingkungan, serta absennya upaya serius untuk memutus akar persoalan yang ada.

“Tema ini mengajak untuk melihat lebih dekat proses-proses tersebut, bukan hanya akibat akhirnya. Pendekatan dokumenter menjadi penting untuk menelusuri sebab, relasi kuasa, dan pola ketidakadilan yang membuat kehidupan berada dalam kondisi rapuh,” katanya.

Dengan merekam realitas dari sudut pandang masyarakat terdampak, dokumentasi menjadi upaya untuk menjaga ingatan, membangun kesadaran, dan membuka kemungkinan perubahan sebelum kerentanan berubah menjadi kehancuran yang tak terpulihkan.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Aceh Dokumenter, Azhari, menekankan bahwa seluruh peserta yang lolos diwajibkan mengikuti rangkaian pendampingan dan produksi hingga tuntas sesuai aturan yang berlaku.

Baca Juga  Hanung Bramantyo dan Yusuf Mahardika Bangkitkan Semangat Kreatif Generasi Muda Aceh

Program ADC 2026 merupakan agenda strategis Yayasan Aceh Dokumenter untuk membina talenta muda dalam dunia dokumenter serta mendokumentasikan realitas di Aceh melalui medium film.

Aceh Documentary Competition (ADC) adalah program tahunan bergengsi yang diinisiasi oleh Yayasan Aceh Dokumenter (Aceh Documentary) sejak tahun 2013. Program ini dirancang sebagai wadah edukasi, inkubasi, pendanaan, dan kompetisi bagi generasi muda di Aceh untuk mengangkat fakta, realitas sosial, budaya, sejarah, hingga isu lingkungan ke dalam bentuk audio-visual yang kritis dan inspiratif.

Azhari menjelaskan, kompetisi ini bukan sekadar ajang mengirimkan video yang sudah jadi, melainkan sebuah program inkubasi dan beasiswa produksi penuh. Alur umumnya diawali dengan pengiriman proposal ide cerita, yakni peserta mendaftarkan diri secara tim (biasanya maksimal 2-3 orang) dengan mengirimkan sinopsis dan rancangan ide cerita berbasis realitas di Aceh. Selanjutnya, dilakukan seleksi administrasi dan wawancara untuk disaring sebagai calon peserta basic training.

“Selama basic training ini peserta mendapatkan pembekalan intensif mengenai dasar-dasar film dokumenter, penguatan ide cerita, serta metodologi riset lapangan,” kata Azhari.

Setelah basic training, peserta kembali ke daerah masing-masing untuk mempertajam data riset, lalu mempresentasikannya kembali di hadapan dewan juri. Hasil presentasi inilah yang dipilih sebanyak tiga judul untuk mengikuti in house training yang di antaranya meliputi teknik sinematografi, manajemen produksi, hingga editing, dan pendanaan produksi serta fasilitas recce (survei lapangan). Proses syuting didampingi langsung oleh para mentor dari Yayasan Aceh Dokumenter. Untuk film yang sudah selesai diproduksi nantinya akan ditayangkan perdana dalam pemutaran khusus atau festival film, seperti Aceh Film Festival.[]