Byklik.com | New Jersey – Pelatih Timnas Maroko, Mohamed Ouahbi, mengaku puas setelah timnya berhasil menahan imbang Brasil 1-1 pada laga yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Sabtu malam waktu setempat atau Minggu, 14 Juni 2026 pagi WIB.
Ouahbi menilai hasil tersebut cukup positif mengingat lawan yang dihadapi adalah Brasil yang kini ditangani pelatih kawakan asal Italia, Carlo Ancelotti. Menurutnya, para pemain Maroko mampu menjalankan strategi yang telah disiapkan dan memberikan perlawanan maksimal sepanjang pertandingan.
“Kami bermain seperti yang telah kami rencanakan, tapi saya menghadapi Carlo Ancelotti, jadi itu tidaklah sederhana,” kata Ouahbi dalam konferensi pers usai pertandingan.
Meski mengaku sedikit kecewa karena gagal meraih kemenangan, pelatih berusia 49 tahun itu menilai satu poin dari laga melawan Brasil tetap merupakan pencapaian yang layak diapresiasi.
“Para pemain menunjukkan karakter yang luar biasa. Kami mencoba menyerang dan bermain sesuai identitas tim. Hasil ini memberikan kepercayaan diri bagi kami,” ujarnya.
Ouahbi baru sekitar empat bulan menangani Timnas Maroko setelah ditunjuk Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) pada 5 Maret 2026 menggantikan Walid Regragui. Sebelumnya, ia lebih banyak berkiprah di level kelompok umur dengan menangani Timnas Maroko U-20 dan U-23.
Laga melawan Brasil menjadi salah satu ujian terbesar dalam karier kepelatihannya. Apalagi, di seberang lapangan berdiri Carlo Ancelotti, sosok yang selama ini menjadi inspirasi bagi perjalanan kariernya.
Kekaguman Ouahbi terhadap Ancelotti bukan hal baru. Dalam konferensi pers menjelang pertandingan, ia bahkan mengungkapkan pernah mempelajari berbagai buku dan biografi yang membahas perjalanan karier pelatih yang akrab disapa Don Carletto tersebut.
“Saya membaca beberapa buku tentang Carlo Ancelotti. Saya tahu juga beberapa rahasianya,” kata Ouahbi sambil tertawa saat konferensi pers sebelum pertandingan.
Menurut Ouahbi, Ancelotti merupakan salah satu referensi utama dalam membangun filosofi kepelatihannya. Saat diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Maroko beberapa bulan lalu, ia bahkan mengutip salah satu perumpamaan yang sering dikaitkan dengan Ancelotti.
“Singa berlari untuk mencari makan, rusa juga berlari agar tidak menjadi mangsa. Keduanya berlari untuk mencapai tujuan,” ucap Ouahbi kala itu.
Filosofi tersebut seakan tercermin dalam pertandingan kontra Brasil. Maroko tampil disiplin, berani menyerang, dan mampu mengimbangi permainan salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Perjalanan Ouahbi menuju level tertinggi sepak bola internasional juga terbilang unik. Sebelum terjun penuh ke dunia kepelatihan, ia dikenal sebagai seorang guru di Schaerbeek, Belgia. Kecintaannya terhadap sepak bola kemudian membawanya meninggalkan profesi tersebut untuk mengejar karier sebagai pelatih.
Kesuksesan terbesar Ouahbi sebelum menangani tim senior adalah ketika membawa Maroko menjuarai Piala Dunia U-20 tahun 2025. Kini, hasil imbang melawan Brasil menjadi catatan penting lainnya dalam perjalanan kariernya.
Bagi Ouahbi, pertandingan menghadapi Brasil bukan sekadar perebutan poin, tetapi juga momen berharga untuk mengukur perkembangan tim sekaligus berhadapan langsung dengan sosok yang selama ini menjadi inspirasi dalam dunia kepelatihan.
“Bermain melawan tim besar seperti Brasil selalu menjadi tantangan. Kami belajar banyak dari pertandingan ini,” ujarnya.











