Byklik.com | Banda Aceh – Kinerja perdagangan luar negeri Aceh melemah pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor turun cukup dalam, diikuti penurunan tipis pada impor dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Aceh Agus Andria menyebutkan, nilai ekspor Aceh pada Maret 2026 tercatat sebesar 59,33 juta dolar AS atau turun 8,21 persen dibanding Februari 2026. Meski demikian, secara tahunan ekspor masih tumbuh 4,03 persen.
“Secara umum, nilai ekspor Aceh pada Maret 2026 tercatat 59,33 juta dolar AS. Meski terjadi penurunan dibanding bulan sebelumnya, secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan positif,” ujar Agus, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan, struktur ekspor Aceh masih didominasi sektor pertambangan dan perkebunan, dengan batu bara sebagai komoditas utama.
Dari total ekspor, sebesar 52,93 juta dolar AS atau 89,22 persen dikirim melalui pelabuhan di Aceh. Sementara 6,29 juta dolar AS lainnya diekspor melalui pelabuhan luar daerah, terutama Sumatera Utara.
India menjadi negara tujuan utama dengan nilai ekspor mencapai 51,44 juta dolar AS yang didominasi batu bara. Amerika Serikat berada di posisi kedua sebesar 3,11 juta dolar AS dengan komoditas kopi dan rempah-rempah, disusul Thailand sebesar 2,04 juta dolar AS.
“Komoditas terbesar yang diekspor adalah batu bara dengan nilai 46,85 juta dolar AS atau 78,96 persen dari total ekspor,” jelasnya.
Selain batu bara, komoditas lain yang turut menyumbang ekspor adalah minyak nabati (CPO), kopi, rempah-rempah, serta produk kimia.
Sementara itu, nilai impor Aceh pada Maret 2026 tercatat sebesar 43,17 juta dolar AS atau turun 1,58 persen dibanding Februari 2026. Namun secara tahunan, impor justru melonjak signifikan sebesar 40,57 persen dibandingkan Maret 2025.
Penurunan ekspor dan impor secara bulanan ini mencerminkan perlambatan aktivitas perdagangan jangka pendek, meski permintaan global terhadap komoditas unggulan Aceh, khususnya batu bara, masih relatif kuat.











