Byklik.com | Banda Aceh – Nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh pada Februari 2026 melonjak tajam menjadi USD 64,64 juta atau naik 35,84 persen dibandingkan Januari 2026, di tengah dominasi komoditas batu bara dan bahan bakar mineral, Rabu, 1 April 2026.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengatakan lonjakan ekspor tersebut ditopang sektor energi, khususnya bahan bakar mineral yang mencapai USD 39,40 juta.
“Ekspor didominasi komoditas batu bara sebagai penyumbang terbesar,” ujar Tasdik dalam rilis bulanan di Kantor BPS Aceh.
Ia menjelaskan, India menjadi negara tujuan utama ekspor Aceh pada Februari 2026 dengan nilai mencapai USD 51,02 juta. Komoditas yang dikirim meliputi batu bara, crude palm oil (CPO), serta berbagai produk kimia.
Dari sisi sektor, kontribusi terbesar berasal dari pertambangan dengan nilai ekspor mencapai USD 39,43 juta, menegaskan ketergantungan ekspor Aceh terhadap komoditas energi.
Sementara itu, nilai impor Aceh pada periode yang sama juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 47,57 persen menjadi USD 43,86 juta dibandingkan Januari 2026.
Impor tersebut didominasi oleh bahan bakar mineral dan gas senilai USD 42,64 juta, serta bahan bakar minyak sebesar USD 1,22 juta.
Meski impor meningkat, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Februari 2026 masih mencatatkan surplus sebesar USD 20,77 juta.
“Surplus ini menunjukkan kinerja perdagangan Aceh masih positif, meskipun impor juga meningkat cukup tinggi,” kata Tasdik.
Dari total ekspor, sebesar USD 52,85 juta atau 81,76 persen dikirim melalui pelabuhan yang berada di wilayah Aceh, menandakan peran penting infrastruktur pelabuhan lokal dalam mendukung aktivitas perdagangan luar negeri.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan struktur ekspor Aceh yang masih bertumpu pada sektor primer, khususnya energi, dengan pasar utama yang terkonsentrasi pada negara tertentu.











