Byklik.com | Teheran – Iran menaikkan taruhan dalam negosiasi penghentian perang dengan mengajukan tuntutan baru yang berpotensi menghasilkan miliaran dolar dari jalur energi global di Selat Hormuz.
Dalam laporan terbaru, Teheran mempertimbangkan skema penarikan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi selat strategis tersebut—jalur yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Langkah ini dinilai sebagai kombinasi tekanan ekonomi dan strategi geopolitik di tengah konflik yang masih memanas.
Analis Timur Tengah dari Bloomberg Economics, Dina Esfandiary, menilai kebijakan itu bukan sekadar taktik perang, tetapi juga upaya menutup tekanan ekonomi akibat sanksi.
“Iran melihat ini sebagai cara untuk menutup sebagian kekurangan ekonominya,” kata Esfandiary.
Ia menegaskan, perang telah menunjukkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur energi global dengan biaya relatif kecil, namun berdampak besar.
“Mereka belajar bahwa dengan relatif mudah dan murah, mereka bisa menyebabkan gangguan besar,” ujarnya.
Selat Hormuz sendiri dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan atau kebijakan baru di kawasan itu langsung berdampak pada harga energi global dan stabilitas ekonomi internasional.
Di tengah situasi tersebut, Iran juga menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat dan menegaskan bahwa perang hanya akan berakhir sesuai dengan syarat yang mereka tetapkan.
Tuntutan Iran mencakup penghentian serangan, kompensasi kerugian perang, hingga pengakuan atas kontrol strategis di Selat Hormuz—sebuah posisi yang memberi leverage besar dalam negosiasi.
Sementara itu, konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan terus mengguncang pasar global. Gangguan distribusi energi akibat ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran krisis ekonomi dunia.
Dengan strategi ini, Iran tidak hanya berupaya mengakhiri perang, tetapi juga memaksimalkan posisi tawarnya dengan memanfaatkan kendali atas salah satu jalur energi paling vital di dunia.











