Byklik.com | Jakarta – MY Esti Wijayanti, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset, olahraga, dan pariwisata, menyoroti wacana pemerintah untuk kembali menerapkan pembelajaran daring bagi siswa serta meminta agar kebijakan tersebut dikaji secara mendalam karena dinilai berpotensi menimbulkan berbagai persoalan di dunia pendidikan.
Esti mengingatkan, pembelajaran daring pernah diterapkan saat pandemi COVID-19. Dari pengalaman tersebut, menurutnya, sistem pembelajaran jarak jauh meninggalkan dampak yang tidak sederhana bagi peserta didik.
“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” kata Esti dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2026.
Ia menjelaskan, berbagai persoalan muncul selama penerapan pembelajaran daring, mulai dari kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran, kedisiplinan, hingga pembentukan karakter. Selain itu, kendala teknologi juga menjadi tantangan yang dihadapi oleh banyak peserta didik.
“Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana,” ujarnya.
Esti juga menyoroti fenomena learning loss, yakni kondisi ketika peserta didik mengalami penurunan motivasi belajar dan cenderung melupakan materi pelajaran yang telah diajarkan.
Menurut politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu, kemampuan kognitif pelajar turut mengalami penurunan pasca penerapan pembelajaran daring. Hal tersebut terlihat dari berbagai hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.
Selain dampak akademis, ia menilai pembelajaran jarak jauh juga berdampak pada aspek psikologis dan kesehatan fisik anak. Oleh karena itu, Esti menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dikorbankan karena berpotensi menimbulkan dampak berkepanjangan.
“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia,” katanya.











