Nasional

Roti Berjamur dalam Program MBG Picu Sorotan Keamanan Pangan

Avatar
×

Roti Berjamur dalam Program MBG Picu Sorotan Keamanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Roti berjamur. [Foto: UGM]

Byklik.com | Yogyakarta – Temuan roti berjamur dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah memicu sorotan terkait keamanan pangan bagi siswa. Roti yang termasuk dalam paket MBG kering selama Ramadan itu dilaporkan ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi di beberapa sekolah.

Kasus terbaru terjadi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ketika ratusan roti dalam paket MBG ditemukan berjamur dan akhirnya dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Temuan serupa juga dilaporkan di SMPN 1 Delanggu serta beberapa sekolah di Sumatera Selatan.

Di wilayah Sumatera Selatan, roti berjamur ditemukan antara lain di SDN 1 Tugu Papak Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, serta sejumlah sekolah dasar di wilayah Kotaagung Timur.

Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D., menilai temuan tersebut harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.

“Meski program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah, aspek keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas utama,” ujar Zullies di Fakultas Farmasi UGM, Jumat, 6 Maret 2026.

Baca Juga  Pemerintah Aceh Terima Penghargaan dari Kementerian PKP

Menurutnya, roti yang sudah berjamur menunjukkan adanya pertumbuhan mikroorganisme sehingga tidak layak dikonsumsi. Ia menilai kejadian tersebut kemungkinan berkaitan dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan produk yang tidak terkontrol dengan baik.

“Oleh karena itu, evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.

Zullies menjelaskan roti berjamur biasanya ditumbuhi kapang seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. Beberapa jenis kapang tersebut bahkan dapat menghasilkan mikotoksin, yakni senyawa beracun yang dihasilkan jamur.

“Contohnya aflatoksin atau ochratoxin. Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi karena kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh,” jelasnya.

Ia mengingatkan, konsumsi roti berjamur dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti mual, muntah, nyeri perut, hingga diare. Pada sebagian orang, jamur juga dapat memicu reaksi alergi.

“Jika makanan yang terkontaminasi mengandung mikotoksin dalam jumlah tertentu, dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak lebih serius, misalnya gangguan hati,” ujarnya.

Menurut Zullies, roti berjamur tidak selalu berarti telah melewati masa kedaluwarsa. Jamur dapat tumbuh lebih cepat jika roti disimpan pada tempat yang lembap atau suhu terlalu hangat.

Baca Juga  Wali Nanggroe Bahas Pelestarian Budaya dan Status Keistimewaan

Karena itu, ia menegaskan roti yang sudah menunjukkan tanda-tanda berjamur tetap tidak boleh dikonsumsi meskipun tanggal kedaluwarsanya belum terlewati.

Ia menyebut beberapa ciri roti yang tidak layak konsumsi, antara lain muncul bintik atau bercak jamur berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan, bau apek atau asam yang tidak biasa, tekstur lembap berlebihan atau berlendir, serta perubahan warna pada permukaan roti.

“Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” paparnya.

Zullies juga mendorong pemerintah dan pihak terkait memperketat pengawasan kualitas pangan dalam program MBG, mulai dari proses produksi hingga distribusi ke sekolah.

“Perlu kontrol masa simpan dan tanggal produksi, penyimpanan pada suhu yang tepat, serta pemeriksaan sebelum distribusi ke sekolah agar makanan yang tidak layak bisa terdeteksi lebih awal,” katanya.

Ia menambahkan pelatihan keamanan pangan bagi pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah juga penting dilakukan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

“Dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan seperti ini sebenarnya dapat diminimalkan,” pungkasnya.