Byklik.com | Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada meluluskan 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini. Sebanyak 952 lulusan mengikuti prosesi wisuda hari ketiga yang berasal dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dari 952 lulusan tersebut, sebanyak 37,88 persen merupakan wisudawan dan 62,12 persen wisudawati.
Namun, prosesi wisuda tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya masa studi. Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan membawa tanggung jawab baru ketika para lulusan kembali ke tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Anissa Dini Kamila, wisudawan Fakultas Ilmu Budaya UGM, saat mewakili para lulusan menyampaikan sambutan.
Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, dan sesama wisudawan, Anissa mengajak para lulusan memaknai gelar yang diperoleh bukan sekadar pencapaian pribadi.
Menurutnya, gelar tersebut merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan keluarga yang mendampingi perjalanan pendidikan mereka.
“Gelar ini seutuhnya adalah milik ayah dan ibu,” ujar Anissa.
Ia menilai perjuangan menyelesaikan pendidikan tinggi tidak selalu mudah. Banyak mahasiswa dapat bertahan hingga lulus berkat dukungan dan pengorbanan orang tua, termasuk ketika keluarga menghadapi berbagai keterbatasan.
“Di Universitas Gadjah Mada, kita selalu menggaungkan semboyan kampus kerakyatan. Tapi kawan-kawan, rakyat yang paling nyata menderita demi pendidikan kita adalah orang tua kita sendiri,” ungkapnya.
Lulusan Diminta Tetap Berpihak kepada Masyarakat
Anissa mengingatkan perjalanan para lulusan tidak berhenti setelah mengenakan toga. Mereka akan menempuh berbagai profesi, mulai akademisi, pengusaha, birokrat hingga pemangku kebijakan di tingkat nasional maupun internasional.
Karena itu, ia meminta para lulusan tetap memahami persoalan masyarakat dan menjaga integritas di mana pun mereka berada.
“Kita butuh orang-orang yang pernah merasakan kelaparan, di tengah memperjuangkan pendidikan, yang mengerti penderitaan rakyat kecil untuk merancang kebijakan di negeri ini. Tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu jangan pernah tinggalkan integritas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar ilmu, kekuasaan, dan materi yang diperoleh kelak tidak digunakan untuk menciptakan bentuk penindasan baru.
“Jangan menjadi mesin penindas yang baru. Jika suatu saat nanti kekuasaan dan setumpuk uang mencoba menyuap nurani kalian, ingatlah bahwa kita lahir dari rahim Universitas Gadjah Mada,” katanya.
Anissa juga mengajak para lulusan mempertahankan nalar kritis sebagai bagian dari identitas setelah meninggalkan kampus. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya membentuk kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan membaca persoalan masyarakat secara kritis.
Sementara itu, alumni UGM tahun 1987 yang juga Ketua Departemen Kemitraan dan Bisnis PP KAGAMA, Amalia Susilowati, menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan.
“Saya yakin, semua orang tua hanya ingin anaknya melihat harapan, bukan kesulitan,” ungkap Amalia.
Amalia mengatakan kelulusan juga menjadi awal perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar KAGAMA.
“Mulai hari ini, nama Universitas Gadjah Mada akan selalu melekat di belakang perjalanan kalian semua,” tuturnya.
Ia mengajak para alumni memanfaatkan jejaring KAGAMA untuk belajar, berkolaborasi, dan membuka kesempatan bersama, bukan untuk mencari jalan pintas maupun keistimewaan.
Menurutnya, KAGAMA memiliki tiga nilai utama, yakni Guyub, Rukun, dan Migunani.
“Guyub berarti kita tidak berjalan sendiri. Rukun berarti kita mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Migunani berarti keberadaan kita harus memberikan manfaat bagi orang lain, negara, dan Ibu Pertiwi,” jelasnya.
Amalia berharap para wisudawan mampu menjadi profesional berintegritas, ilmuwan yang menghadirkan terobosan, serta pemimpin amanah yang memberikan solusi bagi masyarakat dan bangsa.
UGM Dorong Lulusan Berani Hadapi Dunia Profesional
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, turut mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih berbagai prestasi.
Ia meminta para lulusan menjadikan momentum kelulusan sebagai titik awal untuk memasuki dunia profesional dengan penuh keyakinan.
“Jadikan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri,” tutur Wening.
Menurut Wening, para lulusan harus membawa keberanian dan keuletan dalam menghadapi perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kalian harus memiliki audacity, keberanian, dan keuletan karena kalian telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas berkelas dunia,” ujarnya.
Wening juga mendorong lulusan memanfaatkan reputasi serta jejaring sosial UGM sebagai modal memasuki dunia yang mereka cita-citakan.
“Gunakanlah social capital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan,” pesannya.











