Byklik.com | Kuala Simpang – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang terus mendorong pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana melalui pengembangan sektor ekonomi kreatif. Salah satu langkah yang dilakukan ialah pelatihan kriya batik melalui Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Ekonomi Kreatif (PRR Ekraf) 2026.
Pelatihan yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif tersebut berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan dibuka Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Adi Mukhtar Rivai, didampingi Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Aceh Tamiang, Muslizar, yang mewakili Bupati Aceh Tamiang.
Muslizar mengatakan sektor ekonomi kreatif di Aceh Tamiang mulai berkembang dan turut memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat. Namun, menurut dia, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya akses pemasaran yang cukup sulit di tengah kondisi ekonomi masyarakat setelah bencana banjir.
“Ini merupakan bagian dari program percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir di Aceh Tamiang. Melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan ini, kita berharap dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan menjadi penggerak pemulihan ekonomi masyarakat,” ujar Muslizar.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu upaya membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat.
Menurut Muslizar, peningkatan keterampilan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan ekonomi pascabencana. Dengan keterampilan yang memadai, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan usaha produktif dan menciptakan sumber pendapatan baru.
Sementara itu, Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif, Adi Mukhtar Rivai, mengatakan pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup pemulihan aktivitas ekonomi, keterampilan, dan produktivitas masyarakat.
Karena itu, kata Adi, PRR Ekraf 2026 diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan, sertifikasi kompetensi, peningkatan keterampilan, dan program pengembangan lainnya.
Ia menilai sektor kriya, khususnya batik, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan daerah. Selain memiliki nilai ekonomi, batik juga dapat menjadi sarana untuk mengangkat identitas dan kekayaan budaya lokal.
“Batik memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah. Selain bernilai ekonomi, batik juga dapat mengangkat identitas dan kekayaan budaya lokal,” ujar Adi.
Adi berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kompetensi peserta, sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja. Produk batik yang dihasilkan juga diharapkan memiliki ciri khas daerah dan mampu meningkatkan daya saing produk kriya lokal.
Diikuti 150 Peserta
Pelatihan kriya batik tersebut diikuti 150 peserta. Materi yang diberikan mencakup teknik produksi dan desain motif batik.
Para peserta juga mengikuti praktik membatik bersama Sania Sari, Sekretaris Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia sekaligus General Manager Hasan Batik Bandung.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Pusat Pengembangan SDM Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif, jajaran Kementerian Ekonomi Kreatif, para narasumber, peserta, serta undangan lainnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berharap pengembangan ekonomi kreatif, khususnya kriya batik, dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana.***











