Byklik.com | Bandung – Energi panas bumi di lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Panas bumi kini juga dimanfaatkan petani untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk, merawat tanah, sekaligus mendukung produksi pangan.
Inovasi tersebut dikembangkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah.
Inovasi bernama GeO-Fert itu lahir dari persoalan yang dihadapi petani di wilayah Kamojang. Kondisi udara yang sejuk, curah hujan tinggi, dan kelembapan membuat proses pengeringan pupuk organik secara konvensional membutuhkan waktu hingga 14 hari.
Di sisi lain, keterbatasan pupuk bersubsidi dan tingginya harga pupuk kimia turut menjadi tantangan bagi keberlangsungan usaha tani.
Melalui pemanfaatan excess steam panas bumi bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius, proses pengeringan pupuk GeO-Fert yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 14 hari dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.
Hingga 2026, inovasi tersebut telah memanfaatkan sekitar 600 ton limbah organik untuk menghasilkan 300 ton pupuk GeO-Fert. Pupuk itu telah diaplikasikan pada sekitar 15 hektare lahan dan memberikan manfaat kepada sekitar 950 petani.
Keberhasilan GeO-Fert tidak hanya diukur dari jumlah pupuk yang diproduksi, tetapi juga dari manfaatnya ketika kembali digunakan di lahan pertanian.
Hal itu terlihat melalui kegiatan HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert. Dari lahan yang menggunakan pupuk tersebut, petani berhasil memanen sekitar 15 ton kentang dan 40 ton kol.
Pemanfaatan pupuk tersebut juga menghasilkan penghematan biaya hingga sekitar Rp82 juta.
“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya bisa membuat pupuk sendiri, tetapi bagaimana pupuk ini kembali ke tanah dan menghasilkan panen. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah, sekarang bisa memberikan manfaat untuk pertanian dan petani,” ujar Local Hero KTH Cikondang Hendro Gunawan dalam keterangannya, Kamis, 24 September 2026.
Dorong Ketahanan Pangan
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali melihat pentingnya peran petani sekaligus mendorong inovasi yang dapat memperkuat produktivitas dan kemandirian mereka.
“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat,” kata Baron.
Menurutnya, pemanfaatan panas bumi di Kamojang menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat memberikan manfaat lebih luas ketika dihubungkan dengan kebutuhan produktif masyarakat.
Selain sebagai sumber pembangkit listrik, energi panas bumi di Kamojang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif, termasuk pengeringan kopi dan aktivitas pertanian.
Limbah organik diolah menjadi pupuk, proses pengeringan dipercepat, pupuk digunakan kembali di lahan, kemudian menghasilkan komoditas pertanian.
Rangkaian tersebut menciptakan siklus pemanfaatan energi dan sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekaligus petani.
Pertamina juga terus mengembangkan Program Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia. Hingga 2026, terdapat 269 program DEB yang dijalankan Pertamina, dengan 166 program di antaranya berfokus pada ketahanan pangan.
Program DEB ketahanan pangan tersebut telah mendukung sekitar 2.091 hektare lahan pertanian dengan hasil panen mencapai 21.357 ton.
Melalui program tersebut, Pertamina mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan teknologi tepat guna untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat.
Tujuannya tidak hanya menghadirkan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di Kamojang, pemanfaatan panas bumi menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat terhubung dengan kebutuhan petani. Dari limbah dihasilkan pupuk, dari pupuk tumbuh tanaman, dan dari hasil pertanian tercipta nilai ekonomi bagi masyarakat.











