Ekonomi & Bisnis

OJK Aceh Dorong Media Berperan untuk Memperkuat Literasi dan Ekosistem Keuangan Syariah

Raudhatul
×

OJK Aceh Dorong Media Berperan untuk Memperkuat Literasi dan Ekosistem Keuangan Syariah

Sebarkan artikel ini
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh. Foto: Byklik.com | Radhatul

Byklik.com | Banda Aceh – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh menegaskan pentingnya peran media dalam memperkuat literasi, inklusi, serta pengembangan ekosistem keuangan syariah di Aceh.

Manager Madya OJK Aceh, Ferdinan Daular menyampaikan bahwa perbankan syariah di Aceh memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah.

Menurutnya, kontribusi perbankan syariah di Aceh terlihat dari pertumbuhan ekonomi, peningkatan pembiayaan, efisiensi biaya transaksi, hingga perluasan layanan digital yang kini semakin berkembang di masyarakat.

“Perbankan syariah menjadi agen intermediasi ekonomi daerah, memperkuat sistem keuangan, serta mendorong digitalisasi transaksi yang saat ini terus meningkat di Aceh,” ujar Ferdinan di Banda Aceh, Jumat, 15 Mei 2026.

Ia menjelaskan, Aceh sebagai daerah dengan kekhususan penerapan sistem keuangan syariah memiliki posisi penting dalam pengembangan ekonomi berbasis syariah. Hal ini juga terlihat dari peningkatan pembiayaan UMKM yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Selain itu, perbankan syariah disebut berperan dalam memperluas akses pembiayaan, mendukung sektor produktif, serta mendorong pendampingan usaha agar pelaku UMKM dapat berkembang secara berkelanjutan.

Baca Juga  413 Penerima BSI Lolos SNBP 2026 Nasional

“Perbankan tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga melakukan pendampingan usaha agar UMKM bisa tumbuh dan berdaya saing,” katanya.

Ferdinan juga menyoroti tantangan industri keuangan syariah di Aceh, mulai dari adaptasi sistem, peningkatan kualitas layanan, hingga penguatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.

Berdasarkan data OJK, tingkat literasi keuangan syariah di Aceh masih berada di kisaran 48 persen dengan inklusi mencapai 89 persen. Meski tergolong di atas rata-rata nasional, pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah dinilai masih perlu diperluas.

“Banyak masyarakat sudah menggunakan produk keuangan syariah, tetapi belum sepenuhnya memahami konsep dan perbedaannya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara OJK, industri perbankan, dan media dalam menyampaikan informasi yang edukatif kepada masyarakat.

Media diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu mengedukasi publik mengenai produk keuangan syariah, mengurangi misinformasi, serta memperkuat kepercayaan terhadap industri jasa keuangan.

Baca Juga  Transaksi ZISWAF BSI Tembus Rp30 Miliar Selama Ramadan

“Peran media sangat penting dalam meningkatkan literasi, membangun kepercayaan publik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Aceh,” kata Ferdinan.

Sementara itu, Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, mengatakan kini posisi BSI tidak lagi berada di bawah bank induk, melainkan berdiri setara dalam kompetisi perbankan nasional.

Bank Syariah Indonesia (BSI) menegaskan bahwa posisinya saat ini telah sejajar dengan bank-bank besar nasional dalam industri perbankan Indonesia, seiring dengan penguatan kinerja dan pertumbuhan aset yang terus menunjukkan tren positif.

Perubahan posisi tersebut menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia. Saat ini, BSI juga telah menembus peringkat lima besar nasional berdasarkan total aset.

“Alhamdulillah, BSI sudah masuk ranking lima nasional. Ini menunjukkan penguatan posisi BSI di industri perbankan,” katanya.

Menurutnya, kesetaraan posisi ini juga diikuti dengan peningkatan tanggung jawab dalam menjaga kualitas layanan, daya saing, serta inovasi produk perbankan syariah di tengah ketatnya kompetisi industri keuangan.[]