Olahraga

Nico Williams Wujudkan Mimpi Keluarga Imigran Menjadi Juara Dunia

Avatar
×

Nico Williams Wujudkan Mimpi Keluarga Imigran Menjadi Juara Dunia

Sebarkan artikel ini
Inaki Williams dan Nico Williams dari Athletic Club merayakan kemenangan tim mereka setelah memenangkan adu penalti dalam laga final Copa del Rey antara Athletic Club dan Real Mallorca di Stadion La Cartuja, Sevilla, 6 April 2024. [Foto oleh Cristian Trujillo/Quality Sport Images/Getty Images]

Byklik.com | Madrid – Di balik keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia FIFA 2026, tersimpan kisah perjuangan luar biasa yang mengantarkan Nico Williams dari keluarga imigran Ghana hingga menjadi pahlawan di panggung sepak bola dunia.

Winger Athletic Club itu menjadi salah satu aktor penting saat Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 pada final di New Jersey. Meski belum sepenuhnya pulih dari cedera, Nico tampil menentukan dengan mengirim umpan kepada Ferran Torres pada menit ke-106 yang berujung gol kemenangan La Roja.

Momen itu mengantarkan Spanyol meraih gelar juara dunia sekaligus mengulang kenangan manis ketika Andres Iniesta mencetak gol penentu pada final Piala Dunia 2010.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi emosional dari sang kakak, Inaki Williams, melalui media sosial. Menurutnya, pencapaian Nico jauh melampaui sekadar mengangkat trofi.

“Namun, lebih dari sekadar trofi, terima kasih atas apa yang telah kamu lakukan. Kamu telah membuat jutaan keluarga imigran seperti orang tua kita bangga dengan menunjukkan bahwa anak-anak mereka suatu hari nanti bisa merasakan apa yang kamu capai,” tulis Inaki.

Ia juga menyebut keberhasilan adiknya menjadi simbol harapan bagi banyak keluarga yang meninggalkan tanah kelahirannya demi masa depan yang lebih baik.

Baca Juga  Moriyasu Tetap Bangga Meski Jepang Disingkirkan Brasil Dramatis
EAST RUTHERFORD, NEW JERSEY - JULY 19: Lamine Yamal and Nico Williams of Spain celebrates after the FIFA World Cup 2026 Final match between Spain and Argentina at New York New Jersey Stadium on July 19, 2026 in East Rutherford, United States. (Photo by Robbie Jay Barratt - AMA/Getty Images)
Lamine Yamal dan Nico Williams dari tim nasional Spanyol merayakan keberhasilan setelah pertandingan final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, Amerika Serikat, pada 19 Juli 2026. [Foto: Robbie Jay Barratt – AMA/Getty Images]

Perjuangan dimulai dari Gurun Sahara

Kesuksesan Nico tak lepas dari pengorbanan kedua orang tuanya, Comfort dan Felix, yang meninggalkan Ghana dengan menempuh perjalanan berbahaya melintasi Gurun Sahara menuju Eropa.

Saat tiba di Spanyol, Comfort tengah mengandung Inaki. Putra pertama mereka lahir di Bilbao pada 15 Juni 1994 dan diberi nama Inaki sebagai penghormatan kepada Pastor Inaki Mardones, sosok yang membantu keluarga tersebut memperoleh tempat tinggal dan mengantar mereka ke rumah sakit saat persalinan.

Masa kecil keluarga Williams jauh dari kata mudah. Inaki pernah mengenang bagaimana keluarganya kesulitan membayar tagihan listrik dan air, sementara kedua orang tuanya bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Saya tidak pernah menyalahkan mereka karena tidak sempat membuatkan saya roti lapis ketika mereka bekerja mati-matian demi menyediakan makanan, air, dan pakaian bagi keluarga kami,” kenangnya.

Bakat terlihat sejak usia enam tahun

Setelah sempat tinggal di Sesma, keluarga Williams menetap di Pamplona. Di kota itulah Nico lahir pada 12 Juli 2002 dan mulai mengenal sepak bola.

Pelatih pertamanya di San Jorge, Diego San Roman, mengaku langsung melihat bakat luar biasa Nico saat mengikuti latihan seleksi pada usia enam tahun.

Baca Juga  Diwarnai Dua Keputusan Kontroversial, Argentina Menang Dramatis 3-2 Atas Mesir

“Dia baru beberapa kali menyentuh bola, tetapi itu sudah cukup membuat kami sadar bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya,” ujar San Roman.

Menurutnya, Nico sejak kecil sudah memiliki kecepatan, akselerasi, kekuatan fisik, kemampuan menggunakan kedua kaki dengan sama baiknya, serta tendangan yang sangat keras.

Selain kemampuan teknis, San Roman juga mengenang Nico sebagai anak yang rendah hati, pendiam, sopan, dan tidak pernah mengeluh meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Menembus puncak sepak bola dunia

Setelah berkembang di Pamplona, Nico mengikuti jejak Inaki bergabung dengan akademi Osasuna sebelum direkrut Athletic Club pada 2013. Kariernya terus melesat hingga menjadi salah satu pemain sayap terbaik dunia.

Ia mempersembahkan gelar Piala Eropa 2024 bagi Spanyol sebelum melengkapinya dengan trofi Piala Dunia 2026.

Bagi San Roman, keberhasilan Nico bukanlah keberuntungan semata, melainkan hasil dari perjuangan panjang sebuah keluarga yang tak pernah menyerah.

“Tidak ada yang diberikan begitu saja kepada mereka. Mereka harus melewati begitu banyak rintangan dalam hidup. Nico selalu membuat saya tersenyum. Cara dia bermain selalu menghadirkan kebahagiaan, dan pemain seperti dialah yang membuat saya ingin terus menjadi pelatih,” tuturnya.