Nasional

Kemenkes Wajibkan Tracing 100 Persen Kontak Erat Pasien TB

Bambang Iskandar Martin
×

Kemenkes Wajibkan Tracing 100 Persen Kontak Erat Pasien TB

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, saat membuka Forum Nasional Tuberkulosis 2026 di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026. (Foto: Kemenkes)

Byklik.com | Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerapkan strategi baru dalam pengendalian tuberkulosis (TB) dengan mewajibkan pelacakan (tracing) terhadap 100 persen anggota keluarga dan kontak erat pasien TB. Kebijakan tersebut menjadi langkah utama untuk memutus rantai penularan sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.

Kebijakan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, saat membuka Forum Nasional Tuberkulosis 2026 di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian TB bergantung pada kemampuan menemukan seluruh kontak erat pasien agar penularan dapat dihentikan sedini mungkin.

“Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen. Kita jangan mancing di laut, tetapi mancing di kolam ikan. Yang sakit harus segera diobati, yang belum sakit harus dilindungi,” kata Benjamin.

Ia menjelaskan, selama ini penanganan TB masih lebih banyak berfokus pada pengobatan pasien yang telah terdiagnosis, sedangkan sumber penularan di lingkungan terdekat belum sepenuhnya tertangani. Oleh karena itu, Kemenkes memperluas pelacakan kontak erat melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemanfaatan rontgen portabel, serta pemeriksaan cepat untuk menemukan kasus sejak dini.

Benjamin memastikan dukungan anggaran bagi pelaksanaan strategi tersebut telah disiapkan pada 2026. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan berbagai perangkat pendukung agar implementasi kebijakan dapat berjalan optimal di seluruh daerah.

“Strategi dan anggaran sudah ada, alat sedang disiapkan. Tinggal kita kerjakan bersama-sama,” ujarnya.

Ia mengajak pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan swasta, organisasi profesi, serta kader kesehatan untuk memperkuat kolaborasi dalam menjalankan strategi baru tersebut demi mempercepat penurunan angka penularan TB.

Baca Juga  Presiden Prabowo Dorong Pembangunan Prototipe Listrik Desa Bertenaga Surya

Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB global, dengan estimasi 1,08 juta penderita dan sekitar 126 ribu kematian setiap tahun akibat penyakit tersebut.

Dalam forum yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, mengatakan upaya pengendalian TB selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.

Menurut Asnawi, notifikasi penemuan kasus meningkat 31 persen, sedangkan jumlah pasien yang memperoleh pengobatan bertambah 27 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh penemuan kasus secara aktif serta pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau puluhan juta masyarakat.

Meski demikian, ia menilai tantangan pengendalian TB masih cukup besar. Sejumlah kendala yang dihadapi antara lain deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat terhadap penyandang TB, keterbatasan akses layanan kesehatan di daerah terpencil, hingga memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas.

TB bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Tantangan kita adalah deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, akses di daerah terpencil, dan kesinambungan pengobatan,” kata Asnawi.

Selain memperkuat strategi penemuan kasus, Kemenkes juga terus mendorong kemandirian nasional di bidang teknologi kesehatan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan PCR-TB buatan dalam negeri, penelitian vaksin bersama perguruan tinggi, serta penambahan laboratorium mikrobiologi di sejumlah provinsi.

Baca Juga  KLB Campak Meningkat, Kemenkes Prioritaskan Vaksinasi Nakes

Forum Nasional Tuberkulosis 2026 juga menghadirkan penyintas tuberkulosis resistan obat (TB-RO), Veronika Jovelina Therik, yang membagikan pengalaman selama menjalani pengobatan. Ia mengaku sempat kehilangan mata pencaharian sebagai guru les akibat stigma dari lingkungan sekitar.

Veronika juga menceritakan berbagai efek samping yang dialaminya selama menjalani terapi, seperti mual, penurunan berat badan secara drastis, hingga kesulitan berjalan. Namun, berkat kepatuhan menjalani pengobatan, ia akhirnya dinyatakan sembuh.

“Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pasien TB tidak membutuhkan stigma, tetapi dukungan. TB resistan obat memang berat, tetapi bisa disembuhkan jika pasien patuh berobat sampai tuntas,” tuturnya.

Menutup Forum Nasional Tuberkulosis 2026, Benjamin menegaskan empat pilar utama percepatan eliminasi TB di Indonesia, yakni pelacakan kasus secara masif melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pengobatan segera bagi pasien yang terdiagnosis, pemberian terapi pencegahan kepada kontak erat, serta penguatan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat yang mengalami gejala tuberkulosis, seperti batuk selama dua minggu atau lebih, atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB, agar segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah penularan serta meningkatkan peluang kesembuhan pasien.***