Ekonomi & Bisnis

Aceh tak Cukup Dibangun Ulang, Wali Nanggroe Serukan Pemulihan Sosial

Avatar
×

Aceh tak Cukup Dibangun Ulang, Wali Nanggroe Serukan Pemulihan Sosial

Sebarkan artikel ini
Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud membuka Musyawarah Besar Majelis Adat Aceh 2026 di Meuligoe Wali Nanggroe, Banda Aceh, Selasa, 7 April 2026. Foto: Humas Wali Nanggroe

Byklik.com | Banda Aceh — Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia  Malik Mahmud Al Haythar, mengingatkan bahwa membangun Aceh pascabencana bukan sekadar soal membangun ulang infrastruktur yang rusak. Lebih jauh dari itu, yang paling mendesak adalah memulihkan luka sosial dan menghidupkan kembali nilai-nilai adat yang menjadi jantung kehidupan masyarakat Aceh.

Pesan kuat itu disampaikannya saat membuka Musyawarah Besar Majelis Adat Aceh Tahun 2026 di Meuligoe Wali Nanggroe, Selasa, 7 April 2026, di hadapan unsur pemerintah, tokoh adat, ulama, akademisi, serta Forkopimda.

“Jangan hanya membangun yang tampak. Yang tak terlihat—rasa, kepercayaan, dan tatanan sosial—itu yang harus dipulihkan lebih dulu,” tegas Malik Mahmud.

Ia menegaskan, Aceh berdiri bukan semata sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai peradaban yang ditopang kuat oleh adat dan syariat. Falsafah hidup Aceh yang diwariskan leluhur, menurutnya, bukan sekadar simbol, tetapi pedoman nyata dalam menjaga arah pembangunan.

Baca Juga  Gudang PT Universal Glove di Medan Disegel DPR

Bencana banjir hidrometeorologi pada November 2025, kata dia, telah meninggalkan dampak yang jauh lebih dalam dari sekadar kerusakan fisik. Ia mengguncang sendi-sendi sosial, memudarkan harmoni, bahkan berpotensi mengikis nilai-nilai adat di tengah masyarakat terdampak.

Karena itu, ia menegaskan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh berjalan parsial.

“Kita tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun kembali harapan. Tidak hanya memperbaiki jalan, tetapi mengembalikan arah kehidupan,” ujarnya.

Dalam konteks itu, peran Majelis Adat Aceh dinilai krusial. Lembaga adat diminta tidak hanya menjadi simbol, tetapi hadir aktif di tengah masyarakat—menjadi penengah konflik, penjaga harmoni, sekaligus pengawal keadilan dalam distribusi bantuan.

Baca Juga  3R Bekali Relawan untuk Ditempatkan ke Pedalaman Kluet Tengah Aceh Selatan

Wali Nanggroe juga mendorong penguatan kelembagaan adat agar mampu beradaptasi di era modern, melalui digitalisasi, dokumentasi, serta pelibatan generasi muda. Langkah ini penting agar adat tidak sekadar dikenang, tetapi terus hidup dan relevan.

“Adat bukan masa lalu. Ia adalah kekuatan masa depan Aceh,” katanya.

Menutup arahannya, Malik Mahmud menyampaikan pesan optimisme yang kuat: Aceh akan bangkit, bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi dengan nilai, identitas, dan semangat kebersamaan.

“Dari Meuligoe ini, kita tegaskan kepada dunia: adat masih hidup, Aceh tetap kuat, dan kita tidak akan pernah menyerah,” pungkasnya.[]