Berita UtamaHeadline

Cegah Kanker Serviks, Dokter Sp.O.G. Jelaskan Manfaat Rutin Skrining HPV

×

Cegah Kanker Serviks, Dokter Sp.O.G. Jelaskan Manfaat Rutin Skrining HPV

Sebarkan artikel ini
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal, dr. Yusra Septivera, Sp.OG, Subsp.KFM. | Foto: Ihan Nurdin/byklik

Byklik.com | Banda Aceh—Penyakit menular seksual dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan reproduksi perempuan. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh, dr. Yusra Septivera, Sp.OG, Subsp.KFM, menegaskan pentingnya penapisan (screening) Human Papillomavirus (HPV) secara berkala bagi setiap wanita usia 30 hingga 60 tahun yang aktif secara seksual.

dr. Yusra menjelaskan, infeksi virus HPV ditularkan utamanya melalui hubungan seksual. Jenis virus ini sangat beragam, dan tiap tipenya dapat memicu infeksi atau penyakit yang berbeda pada organ reproduksi.

“Tipe virus HPV itu banyak, ada tipe 6, 8, 11, hingga 18. Masing-masing memicu penyakit berbeda, mulai dari kondiloma akuminata atau jengger ayam, hingga risiko paling berbahaya bagi perempuan yaitu kanker serviks,” ujar dr. Yusra, di lokasi screening HPV dan donor darah yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurut anggota Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Aceh itu, salah satu kendala terbesar dalam penanganan kanker serviks adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara dini. Padahal, beberapa tanda awal infeksi HPV maupun perubahan sel pada mulut rahim sebenarnya bisa dikenali.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai di antaranya, keputihan abnormal seperti keputihan yang berulang, tidak kunjung sembuh, berbau menyengat, serta berubah warna menjadi kuning, hijau, hingga bernanah. Kemudian pendarahan pascasanggama, yakni  terjadi pendarahan saat atau setelah berhubungan seksual di luar siklus haid akibat kondisi mulut rahim yang mulai rapuh. Dapat juga ditandai dengan muncul bintik atau benjolan, yaitu terdapat bintik menyerupai jerawat kecil atau benjolan bertekstur kasar seperti bunga kol di area vagina (gejala Kondiloma).

Baca Juga  Bupati Aceh Barat Tinjau Pelayanan RSUD Cut Nyak Dhien

“Adakalanya pasien datang saat kondisinya sudah cukup berat atau benjolannya meluas. Jika benjolan masih kecil seperti kutil, pengobatannya cukup dengan obat oles. Namun jika sudah meluas, harus dilakukan tindakan operasi pengangkatan (eksisi),” jelasnya.

Untuk mendeteksi adanya infeksi atau perubahan sel di mulut rahim, terdapat beberapa metode pemeriksaan yang dapat diakses masyarakat. Pertama, melalui IVA test (inspeksi visual asam asetat, yakni metode pemeriksaan paling dasar dan terjangkau di puskesmas. Tes ini menggunakan larutan khusus untuk melihat apakah terdapat perubahan sel (bercak putih) pada mulut rahim secara langsung.

Kedua, dengan melakukan  pap smear, yakni pemeriksaan sampel sel dari mulut rahim di laboratorium untuk meneliti apakah sel tersebut mengarah pada keganasan atau kanker. Terakhir, dengan cara pemeriksaan HPV-DNA, yakni metode analisis tingkat lanjut yang mendeteksi langsung keberadaan materi genetik (DNA) virus HPV di dalam tubuh secara presisi.

Penanganan Pasangan dan Pentingnya Edukasi Kebersihan

dr. Yusra menekankan bahwa infeksi HPV dan kondiloma merupakan penyakit menular seksual. Oleh karena itu, pengobatan tidak bisa hanya dilakukan pada satu pihak.

“Jika istri terdeteksi mengidap kondiloma, suaminya juga harus ikut diterapi. Kalau hanya istri yang diobati sedangkan suami tidak, infeksi tersebut akan kembali menular (ping-pong effect),” tegas dr. Yusra.

Baca Juga  IKG Aceh Membaik, Partisipasi Ekonomi Perempuan Meningkat

Ia juga menyoroti peran kebersihan diri dan gaya hidup pasangan. Dalam pandangan medis, tindakan khitan pada pria terbukti membantu menjaga kebersihan karena mengurangi penumpukan kotoran di balik kulit prepusium yang berpotensi menyimpan virus HPV. Selain itu, perilaku tidak berganti-ganti pasangan menjadi kunci utama mencegah penularan.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, dr. Yusra mendorong para remaja putri maupun perempuan yang belum menikah untuk melakukan vaksinasi HPV. Vaksinasi memberikan perlindungan imun tubuh sehingga tidak rentan terinfeksi virus saat berhubungan seksual setelah menikah kelak.

Sementara bagi perempuan yang sudah menikah atau aktif secara seksual, ia menyarankan untuk rutin melakukan skrining setahun sekali di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

“Edukasi ini bukan hanya untuk ibu-ibu, tetapi bapak-bapak juga harus aware dan mendukung istrinya untuk skrining. Jagalah kebersihan organ reproduksi, kenali calon pasangan secara bijak, dan sempatkan vaksinasi sebelum menikah serta skrining berkala setelahnya,” imbaunya.

Baca juga: Balai Labkesmas dan Setda Aceh Kolaborasi Gelar Skrining Pencegahan Kanker Serviks

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait melakukan kegiatan penapisan (screening) HPV dalam rangka menindaklanjuti Surat Gubernur Aceh Nomor 400.7/11411 tanggal 18 September 2026. Pelaksanaan skrining HPV-DNA bagi ASN wanita dan istri ASN di lingkungan Sekretariat Daerah Aceh ini dipusatkan di Gedung Serbaguna Lantai I Sekretariat Daerah Aceh pada Senin dan Selasa, 5–6 Oktober 2026, mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.[]