Byklik.com | Banda Aceh—Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Balai Labkesmas) Banda Aceh terus memperluas jangkauan layanan penapisan (screening) Human Papillomavirus (HPV) guna menekan angka risiko kanker leher rahim (serviks) di Provinsi Aceh. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi dan jemput bola ke instansi pemerintahan.
Dokter sekaligus peneliti di Balai Labkesmas Banda Aceh, dr. Nelly Marissa, M.Biomed., menjelaskan bahwa program penapisan HPV merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Kesehatan yang mulai digencarkan sejak tahun 2023. Sebagai perpanjangan tangan pusat, Balai Labkesmas bekerja sama dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memaksimalkan penerimaan sampel.
“Sampel dikumpulkan oleh puskesmas yang ada di daerah, lalu dikirim ke Balai Labkesmas atau Labkesda. Hingga saat ini, kami sudah bekerja sama dengan 14 kabupaten/kota di Aceh, di antaranya Aceh Besar, Lhokseumawe, Pidie, dan Aceh Utara,” ujar dr. Nelly, di lokasi screening HPV dan donor darah yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Selasa, 6 Oktober 2026.

Dalam upaya mempercepat pencapaian target, pemeriksaan kini juga menyasar para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan organisasi wanita. Kegiatan terbaru digelar di lingkungan Pemerintah Aceh bekerja sama dengan sejumlah instansi dan organisasi terkait.
Pemeriksaan ini ditujukan bagi perempuan berusia >30 tahun yang sudah memiliki riwayat aktif secara seksual. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat spekulum pada area vagina oleh tenaga medis profesional, dengan durasi keluarnya hasil laboratorium sekitar satu minggu.
dr. Nelly menekankan bahwa penapisan ini ditujukan bagi individu yang tidak memiliki gejala atau dalam kondisi sehat. Ia juga menjelaskan, penemuan virus HPV pada tubuh seseorang bukan berarti pasien tersebut telah menderita kanker, melainkan sinyal awal untuk melakukan tindakan pencegahan.
“Perjalanan virus HPV menjadi kanker leher rahim itu memakan waktu lama, bisa mencapai 10 tahun. Jika terdeteksi di fase awal, seseorang bisa mengontrol gaya hidup—seperti menjaga pola makan, istirahat, dan olahraga—sehingga sistem imun membaik dan virus dapat hilang dengan sendirinya sebelum berkembang,” jelasnya.
Melalui program ini, ia mengajak kaum perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga.
“Wanita harus menyayangi dirinya sendiri sebelum memberikan cinta kepada anak, suami, dan keluarga. Penapisan ini adalah salah satu wujud nyata mencintai diri sendiri,” imbau dr. Nelly.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesra Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Setda Aceh, dr. Rauyani, M.K.M., menyampaikan bahwa kegiatan penapisan ini dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti Surat Gubernur Aceh Nomor 400.7/11411 tanggal 18 September 2026.

Pelaksanaan skrining HPV-DNA bagi ASN wanita dan istri ASN di lingkungan Sekretariat Daerah Aceh ini dipusatkan di Gedung Serbaguna Lantai I Sekretariat Daerah Aceh pada Senin dan Selasa, 5–6 Oktober 2026, mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.
“Ini merupakan pertama kalinya skrining HPV dilaksanakan untuk lingkungan Pemerintah Aceh. Ke depan, kami juga berencana menyasar organisasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) di lingkungan Pemerintah Aceh,” kata dr. Rauyani.
Dalam pelaksanaannya, peserta diimbau untuk memperhatikan beberapa syarat dan ketentuan medis, di antaranya, menyerahkan fotokopi identitas, tidak sedang dalam kondisi menstruasi, tidak melakukan hubungan seksual selama 24 jam sebelum pemeriksaan, tidak menggunakan sabun pembersih vagina, pembilas, ramuan/pembilas vagina, pembersih sperma, atau obat-obatan pervaginam setidaknya 1 minggu sebelum pemeriksaan.
Kegiatan yang dipadukan dengan aksi donor darah rutin ini terselenggara atas kolaborasi Balai Labkesmas, Dinas Kesehatan Aceh Besar, PMI, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Aceh. Seluruh bahan medis habis pakai (BHMP) dan tenaga pemeriksaan untuk DNA HPV semuanya difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Aceh Besar.[]











