Byklik.com | Banda Aceh – PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA memperluas kerja sama investasi dengan sejumlah mitra strategis untuk mengembangkan berbagai sektor usaha di Aceh, mulai dari energi terbarukan, agroindustri, perikanan, infrastruktur telekomunikasi hingga industri bahan bangunan.
Kerja sama tersebut ditandai melalui agenda Signing Agreement dalam Aceh Economic Development Forum (AEDF) yang digelar PEMA di Banda Aceh, Selasa, 6 Oktober 2026.
Direktur Utama PEMA, Faisal Ilyas, mengatakan kerja sama tersebut diarahkan agar investasi yang masuk ke Aceh tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi berlanjut menjadi kegiatan usaha yang menciptakan nilai tambah bagi daerah.
“Setelah MoU dan perjanjian kerja sama, sifatnya joint study, kemudian soft launching. Yang monetize adalah pabrik baja ringan dan tenant hebel serta bata precast,” ujar Faisal.
Salah satu kerja sama dilakukan PEMA bersama Tigalapan Investama melalui joint study untuk mengkaji peluang pengembangan energi terbarukan. Sementara Citaglobal menjalin kerja sama untuk mengeksplorasi pengembangan energi dan bahan bakar berkelanjutan.
Di sektor telekomunikasi, PT Banda Sentra Nasional (BSNS) menggandeng PEMA untuk mengembangkan infrastruktur telekomunikasi di Aceh.
Adapun PT Indo Surya Galvalume (ISG) menandatangani MoU sekaligus melakukan soft launching pengembangan pabrik baja ringan, termasuk tenant hebel dan bata precast.
Menurut Faisal, pengembangan industri bahan bangunan tersebut diharapkan meningkatkan pemanfaatan produk dan bahan baku lokal sekaligus mendukung peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Ia menilai keterlibatan pelaku usaha dan sumber daya lokal semakin penting dalam proses pemulihan Aceh setelah bencana yang terjadi pada akhir tahun lalu.
“Kita harapkan pascabencana Aceh akhir tahun lalu, kita bisa menjadi bagian dari sebuah sistem untuk mempercepat akselerasi lokal,” katanya.
Selain sektor energi dan manufaktur, PEMA juga menggandeng Kedah Agro Ausin Berhad dari Malaysia. Kerja sama tersebut mencakup agroindustri, perdagangan, akuakultur, logistik, teknologi, ketahanan pangan hingga pengembangan sumber daya manusia.
Faisal mengatakan kerja sama dengan perusahaan asal Provinsi Kedah, Malaysia, itu difokuskan pada pengembangan industri agro dan perikanan secara terintegrasi.
“Dari Agro Kedah Malaysia, industrinya adalah agroindustri dan industri perikanan,” ujarnya.
Kerja sama tersebut juga mencakup rencana pengembangan kawasan perikanan, baik untuk kegiatan budidaya di darat maupun laut. PEMA berharap pengembangan tersebut dapat membangun rantai usaha yang terhubung mulai dari produksi hingga pemasaran.
Dalam jangka pendek, salah satu program yang akan dikembangkan adalah pengolahan fish meal. Produk tersebut memanfaatkan ikan yang tidak memenuhi standar untuk konsumsi langsung, tetapi masih memiliki nilai ekonomi apabila diolah menjadi bahan baku.
“Dalam jangka satu tahun ini, kita mengembangkan fish meal, karena memang banyak ikan yang tidak layak konsumsi. Ini kemudian kita olah menjadi fish meal,” jelas Faisal.
Produk fish meal tersebut ditargetkan untuk dipasarkan ke Malaysia melalui Kedah Agro Ausin Berhad.
Kerja sama lintas sektor tersebut menjadi bagian dari upaya PEMA memperluas investasi dan membangun rantai nilai industri di Aceh. PEMA menempatkan kemitraan dengan pelaku usaha dalam dan luar negeri sebagai salah satu strategi untuk mendorong kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi daerah.











